Aku bersandar pada sofa ruang keluarga menatap room chatku dengan Rega, chat yang kukirim dua jam yang lalu tak kunjung dibalasnya.

"Sayang kamu di rumah sendiri gapapa? Mama mau ketemu klien dulu, apa kamu mau ikut?" tanya mama dari dalam kamarnya.

"Nggak usah ma, aku di rumah aja."

Tok tok

"Ada yang datang tuh kayaknya, tolong bukain ya," kata mama dari kamarnya.

"Iya ma."

Aku melangkah menuju pintu rumah untuk melihat siapa yang datang.

"Hai ibu negara!" sapa Rega begitu aku membuka pintu.

Aku tersenyum menatap Rega. "Kok nggak bilang-bilang mau ke sini?"

"Surprise." Rega tersenyum.

Aku bergumam. "Masuk yuk." Aku memberi jalan untuk Rega masuk ke dalam rumah dan aku menutup pintu.

Aku dan Rega duduk di sofa ruang tamu.

"Kamu udah makan belum?"

Aku menggeleng. "Belum."

"Udah makan berapa kali?" tanya Rega.

"Dua kali."

"Yaudah yuk makan malam." Rega mengangkat paper bag yang dibawanya.

"Kok bawa makanan segala sih."

"Emang nggak boleh bawain makan buat pacar?" Rega menaikkan sebelah alisnya.

"Ya boleh."

"Siapa Ren?" tanya mama yang tiba-tiba muncul.

"Rega ma."

"Hai tante." Rega mencium punggung tangan mama.

"Kebetulan deh ada kamu Reg, tante mau ketemu klien, kamu temenin Shiren di rumah ya."

"Iya tante."

"Yaudah, mama berangkat dulu."

"Hati-hati ma."

Mama keluar rumah meninggalkanku bersama Rega.

"Tumben tiba-tiba ke sini?"

"Rindu."

"Kemarin juga ketemu."

"Kan rindunya tiap hari sayang."

"Terserah kamu deh."