Married By Accident

Bab 1 Pengkhianatan Terencana

"Sudah selarut ini dan kau belum tidur juga, Zayn?" Suara seorang wanita di belakang pria itu terdengar merdu. Wanita cantik dan dewasa itu pun terlihat anggun dengan gaun selutut berwarna merah menyala, high heels tujuh senti mengangkat sepasang tumitnya menjadi lebih tinggi lagi.

Zayn, pria yang di panggil itu bersikap tak acuh terhadap suara wanita di belakangnya.

Wanita itu pun menaikkan alis tak suka. Walaupun dia sudah tahu temperamen pria muda di depannya yang tergolong dingin dan tanpa perasaan, bagaimana pun juga dia tidak terbiasa.

"Joshua baru saja menghubungi ku, ponsel mu tidak bisa di hubungi, kenapa kau mematikannya?" Wanita itu pun mencoba bersabar. Sikap tunangannya ini benar-benar membuatnya jengkel setengah mati.

Kalau saja dia tahu lebih awal akan diperlakukan dingin begini, dia mungkin mengurungkan niatnya mengajukan pertunangan bersama laki-laki seperti Zayn yang bahkan tidak tahu bagaimana menghargai dia. Namun sayangnya, Nadine sudah jatuh cinta pada pria ini sebelum dia bahkan bisa menghindarinya.

Dan jatuh cinta pada pria bernama Zayn merupakan kesalahan terbesar dalam hidup Nadine. Wanita itu sangat menyesali cintanya yang berlabuh pada pria yang tak tepat. Selain sakit hati akibat cinta tak berbalas, Nadine harus bersikap sabar dengan ke-pasifan Zayn padanya selama ini.

"Sampai kapan kau akan bersikap begini? Kalau kau memang keberatan dengan apa yang aku lakukan, bisakah kau katakan padaku dan kita bicarakan ini bersama-sama." Suara wanita itu pun terdengar memohon dan di saat bersamaan mengandung kesedihan teramat dalam.

Zayn tidak berpaling sedikit pun walau suara bergetar dari wanita di belakangnya dia dengar.

"Nadine, ayo kita akhiri saja pertunangan ini." Zayn memunculkan senyum mencela di bibirnya begitu kata-kata ini dia keluarkan.

"Apa?!"

"Lagi pula kita tidak saling mencintai. Dari pada kita saling menyakiti satu sama lain, bukankah lebih baik kita akhiri saja hubungan ini sampai di sini saja." Lanjut Zayn dengan mulut terangkat naik, mencela diri.

Nadine terhenyak. Tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya, begitu kata-kata kejam itu akhirnya dia dengar dari pria ini. Meski ini adalah apa yang selalu dia ingin dengar, tapi saat Zayn mengatakan ini secara langsung, rasa tak mau kehilangan pria ini mendominasi dirinya.