Aku tak tahu bagaimana cara mengawali kisah ini. Biasanya semua orang lebih dulu menceritakan tentang angin yang berhembus menimbulkan suara gemericik di dedaunan. Sayangnya saat ini, suara angin kalah dengan suara pujian semua siswi kepada seorang pria yang berdiri di tepi lapangan basket.

Tentu saja aku mengenalnya, itu sebabnya aku tak mengomentari apapun, karena aku telah bertemu dengannya beberapa hari yang lalu di tempat kerja Abiku. Pria itu adalah bos dari Abiku, dan juga ayah dari teman se-kelasku. Fakta yang baru ku ketahui sekarang.

Kenyataannya, aku menyembunyikan fakta yang tak bisa diungkapkan pada siapapun. Saat itu aku melihat pria tersebut, tidak sendirian. Ia bersama seorang wanita yang postur tubuhnya bak pahatan sempurna yang sengaja dipamerkan.

Aku pernah melihat ibu dari anak pria itu. Wanita yang beda dari wanita yang di hotel. Kenyataan yang harus kututupi sekarang adalah, dia selingkuh?

Jika pun iya, mungkin inilah alasan mengapa anak laki-laki itu terlihat acuh kepada ayahnya dan terkesan tak suka dengan kedatangan pria itu. Tentu saja aku kasihan, seorang anak yang baik harus menerima kenyataan pahit. Sungguh tidak adil.

Abi pernah bilang, ia tak akan melakukan kesalahan, karena punya anak laki-laki, berarti punya potensi untuk dibenci. Mungkin sekarang pria itu merasakan hal yang tak ingin dirasakan Abiku. Aku tak tahu bagaimana akhir kisah mereka, tetapi yang pasti aku penasaran dan akan tetap ingin tahu.

---

Satu hal yang baru kutahu tentang cinta, yaitu rindu.

Dua hal yang telah kurasakan sebelumnya, yaitu hangat dan nyaman.

Tiga hal yang tak ingin kurasa, yaitu Patah hati, sakit, dan jauh.

Aku pikir semudah itu saat membiarkan hati jatuh menjelma menjadi cinta, ternyata aku salah. Cinta ini membuat sakit, tak acuh membuat patah hati, dan rindu ini menyadarkanku bahwa kau semakin jauh.

----

Untuk sebuah rasa yang telah lama tertanam, untuk sebuah kisah yang telah lama tak diceritakan, untuk rindu yang beradu, Khanza tak bisa menahan senyumnya saat tiba di kota Jakarta.

Ah, hampir dua tahun lamanya ia menunggu saat ini. Meskipun ia tahu, berada di tempat tersebut hanya beberapa hari mengisi liburan sambil mengunjungi kakak semata wayangnya-Andra, yang sedang mengenyam pendidikan di kota metropolitan.