Hari pertama di kota Jakarta tidak terlalu membosankan, setidaknya itu yang dirasakan Khanza. Pagi harinya ia harus berada di apartemen Andra sendirian, karena sang kakak sedang ke kampus.

Andra berjanji akan pulang cepat setelah mata kuliah selesai, dan Khanza merasa tak terbebani dengan kesendiriannya sekarang. Setidaknya ia punya waktu untuk berpikir apa yang akan dilakukan selanjutnya di kota ini. Tentu saja Andra tak punya waktu untuk menemani mengelilingi ibu kota.

Duduk dan menatap ke luar jendela, Khanza tak menyalakan televisi. Ia lebih suka melihat aktivitas di luar sana, di mana kendaraan lalu-lalang menciptakan suara gaduh yang tak terdengar sampai ke telinga. Tentu saja, karena kini ia berada di apartemen yang tertutup rapat. Andra melarangnya untuk keluar dari sini.

Mendengkus, Khanza menuju kamar dan mengganti pakaian. Andra tak bilang jika ia dilarang menuju taman yang berada di dekat gedung ini, hanya saja sang kakak melarangnya keluar. Namun, berjalan sebentar saja pasti tak apa-apa bukan? Selama kakak tak mengetahuinya.

Setelah siap dengan memakai celana yang berbahan kain dan berwarna pastel, kaus putih yang dipadukan dengan hijab yang sewarna dengan celana, Khanza menyambar tas kecil, lalu memakai sepatu. Ia melesat keluar dari apartemen  menuju lift.

Ia menghela napas saat masuk ke dalam lift. Sendirian, hanya seorang diri yang berada di sini. Saat dentingan lift terdengar dan pintu terbuka, Khanza bergegas keluar gedung bertingkat itu.

Rasanya sangat lega saat ia melihat dan mendengarkan dengan jelas suara kendaraan yang lalu-lalang di jalanan. Khanza melangkahkan kaki menuju taman kecil yang terdapat bangku. Duduk di sana, ia mengeluarkan ponsel memasang earphone di telinga kemudian mendengarkan musik yang mengalun lembut dari ponselnya.

Semalam Khanza bertemu dan berkenalan dengan adik dari teman Andra. Sepertinya lelaki itu baik, tetapi dari wajahnya, ia langsung tak ingin memasukkan Leon dalam kategori teman. Pergaulannya langsung terbaca.

Dari perkenalan itu mereka tak mengobrol banyak karena Khanza terkesan diam dan tak ingin diajak bicara. Padahal, ia tahu Leon sedang berusaha bersahabat dan mencairkan suasana yang membosankan. Kemudian setelahnya mereka berdua hanya menyaksikan permainan bola basket anak-anak kedokteran.

Khanza ingat, saat itu Leon mengatakan bahwa ia berpikir anak kedokteran kerjaannya hanya di depan buku, dan yang harus kalian tahu, awalnya Khanza pun berpikir seperti itu, tetapi pemikiran tersebut ditepis oleh permainan bola basket mereka serta keterangan dari Leon yang sepertinya telah mengenal dekat kakak-kakak itu.

Khanza menggerakkan ujung sepatunya saat lagu dari LeL dengan judul "What my heart wants to say" mengalun lembut di telinga. Sebenarnya Khanza bukanlah K-pop, tetapi entah mengapa ia menyukai lagu yang berasal dari negeri gingseng tersebut. Apalagi lagu yang mengalun lembut dan damai saat didengarkan.

Tiga puluh menit merasakan berada di luar apartemen, ia kembali menuju apartemen kakaknya. Saat menuju lift, Khanza menghentikan langkah karena matanya tak sengaja menangkap sosok yang dikenali. Spontan mulutnya memanggil orang tersebut yang bertubuh tinggi.