Khanza merasa iri pada bulan yang di atas langit, meskipun beda dia tetap ditemani oleh bintang. Berbeda dengannya, lagi-lagi ia berada dalam situasi seperti ini. Menemani sang kakak bermain basket di komplek rumah Dito. Gilanya, ini malam Minggu, Khanza heran kenapa mereka malah sibuk bermain basket dan bukan jalan bersama pacar.

Keluar dari mobil setelah merasa bosan, Khanza duduk di bangku taman yang berada tak jauh dari tempat kakaknya memarkirkan mobil. Ia mencoba terlihat menikmati permainan bola basket yang dimainkan oleh Andra bersama teman sekelasnya, lima detik kemudian Khanza menyerah, telinganya kembali disumbat memakai earphone.

Masih sambil melihat ke arah lapangan, ia menikmati alunan musik yang membuatnya sedikit melupakan kejenuhan. Andai saja kakak-kakak itu berbaik hati untuk mengajak pacar-pacar mereka ke sini, pasti Khanza tidak merasa kesepian meskipun sangat jelas di depannya banyak kaum Adam yang sedang merebutkan bola oranye.

Lima menit kemudian Khanza melepaskan earphone-nya karena ia benar-benar merasa bosan berada di sini. Khanza kembali ke mobil, membuka pintu belakang kemudian merebahkan tubuh di jok tersebut. Tak ada yang melarangnya tidur bukan?

Meskipun merasa tak nyaman karena kaki terlipat, ia tetap berusaha untuk tertidur. Bermenit-menit kemudian Khanza bangun karena merasa kalah dengan rasa bosan yang mengentayangi. Tentu saja ia kembali keluar dari mobil.

"Eh?"

Mendengarkan suara yang tak asing lagi di telinga, Khanza menoleh pada sosok yang juga menatapnya. Dalam hati ia mengeluh, lebih baik merasa bosan daripada harus meladeni adik dari seorang Dito.

"Lo lagi," ucap Leon diakhiri dengan senyum ramah." Gue pikir lo udah pulang."

Khanza hanya tersenyum kecil. "Belum, masih mau nemenin kakak," jawabnya mencoba untuk santai dan terlihat tidak terusik dengan kedatangan Leon.

"Oh." Leon membulatkan bibir kemudian beralih ke lapangan. "Ke rumah, yuk," ajaknya tiba-tiba.

Khanza yang diajak oleh seseorang baru dikenal, hanya bisa membulatkan mata. "Apa?" Ucapannya itu bukan untuk ingin kembali mendengar ajakan Leon, tetapi untuk memastikan bahwa ia salah dengar atau memang sudah seperti itu.