"Tadi ngomongin apa aja sama Dhan?"

"Kepo."

"Iih ...." Andra terkekeh. "Ngomong apa?" desaknya pada Khanza yang kembali memperlihatkan senyum persis seperti saat pertama kali adiknya itu menginjakkan kaki di kota tersebut.

"Banyak." Khanza menghadapkan tubuh ke arah Andra yang sedang mengemudi. "Kenapa Kakak ngizinin aku pergi sama Dhan?"

"Emang kenapa?" Andra sekilas melihat ke arahnya. "Nggak suka kamu?"

Khanza menggeleng. "Bukan itu maksud aku." Ia berharap kakaknya mengerti maksudnya, karena Khanza sangat malas untuk menjelaskan dari awal.

"Kakak nggak mau liburan kamu jadi sia-sia."

Bukan jawaban itu yang Khanza inginkan. Apa salahnya ia merasa curiga saat dengan sangat jelasnya masih mengingat bagaimana Andra dengan terang-terangnya memperlihatkan sikap tidak sukanya pada Dhan. Lalu, Khanza pun masih mengingat apa yang dikatakan Dhan tadi tentang hubungan mereka berdua yang kini tidak sedekat dulu lagi.

Itu berarti Dhan mengetahui sikap tidak suka Andra pada lelaki itu. Lalu dengan santainya kakak Khanza ini, mengizinkan Dhan jalan bersama Khanza bahkan hanya dengan sekali berucap tanpa harus ada nada permohonan di sana.

"Ada kemajuan, 'kan?" Andra membuka suara setelah diam beberapa detik. "Dhan akhirnya mau ke gedung apartemen itu," lanjutnya.