Apa daya Khanza saat dirinya berada di rumah mewah tersebut, dirinya hanya mengikuti apa yang dikatakan Dhan, lalu tubuh bergerak tak nyaman saat lelaki itu menjauh darinya. Tentu saja tak nyaman karena pertama kalinya ia ke rumah ini, dan juga pertama kalinya ia ke rumah seorang lelaki.

Katakan Khanza berlebihan, karena memang ini yang terasa. Bahkan untuk meneguk minuman saja, ia merasa tak enak. Mungkin ini yang dinamakan canggung? Atau gugup?

Khanza tak tahu, yang jelas ini pertama kalinya ia rasakan. Ia pun yakin Dhan merasakan apa yang ia rasakan sekarang. buktinya lelaki itu membawa Khanza ke sebuah ruang pribadi.

"Tidur siang dulu," kata Dhan saat membuka pintu kamar.

Tangan membuka lebar pintu tersebut, lalu membiarkan Khanza masuk. Dua puluh menit yang lalu mereka selesai makan siang. Dhan tak tahu, kenapa hari ini pamannya—Nevan, tantenya, serta Arnathan—keponakannya, datang untuk makan siang bersama mereka.

Padahal, biasanya di hari minggu Nevan mengajak keluarga kecilnya bertolak ke Tangerang untuk bertemu orang tua sang istri.

Dhan membiarkan pintu kamar tersebut terbuka. "Ini kamar tamu, tidur siang dulu. Oh iya, itu tas kamu." Ia menunjuk tas yang berada di sofa.

Khanza menoleh pada Dhan. Tas itu bukan hanya berisi ponsel, tetapi juga pakaian untuk dipakai sore nanti, dan juga mukenah. Karena hari ini ia akan berada di rumah ini sampai malam berhasil menelan habis matahari. "Kamar kamu yang mana?"

"Di sebelah."

Khanza menutup mulutnya rapat sekian detik, kemudian ia berucap. "Kamu mau istirahat juga?"

Dhan mengangguk. "Tenang aja, kamarku hanya di sebelah, kalau ada apa-apa ketuk aja."

Khanza mengangguk. "Kak Andra nggak asyik, ya," ucapnya kemudian. "Masa dia baik sama kamu pas ada maunya."

Dhan mengerutkan kening tak mengerti. Pasalnya apa yang dikatakan Khanza sangat bertolak belakang dengan sikap asli Andra. meskipun komunikasi mereka sudah tidak sedekat dulu, tetapi tetap saja ia masih sangat mengenal lelaki itu yang sekarang. Bahkan di Jakarta ini, Dhan-lah yang sangat mengenal bagaimana karakter seorang Andra.

"Kak Andra ngomong dia nggak suka sikap kamu yang sekarang, tapi pas lagi banyak tugas dan nggak mau ninggalin aku sendirian, dia malah nitipin aku ke kamu," jelas Khanza.

Dhan membulatkan bibirnya. "Itu maksud kamu." Hanya itu tanggapannya.

"Jangan benci Kak Andra, ya, Dhan." Suara Khanza terdengar sangat serius. "Dia cuma orang yang nggak tahu apa-apa."

"Kenapa nggak dijelasin?" timpal Dhan cepat karena ia tak suka jika Khanza membahas hal ini di hari yang menurutnya akan menjadi hari bahagia.

Perempuan itu menghela napas. "Aku sama kak Andra beda tipis." Ia menatap figur yang membuatnya mengingat bagaimana Dhan yang dulu. "Bedanya aku ngerti perasaan kamu, sementara kak Andra melihat dari sisi anak yang harus menghormati orang tua."

"Meskipun udah tahu Kak Andra masih kayak gitu?" Dari apa yang dijelaskan, Dhan bisa menangkap bahwa Khanza telah menjelaskan apa yang terjadi di antara dirinya dan seseorang yang harus ia sebut ayah.

Khanza mengangguk tanpa menoleh ke arah Dhan. Ia takut melihat ekspresi lelaki itu, yang mungkin akan sama seperti saat Dhan menjauhinya dulu. "Dia cuma pengin yang terbaik," ujarnya kemudian memberanikan diri menatap mata Dhan.