"HAH!"

Kedua sejoli itu terlonjak kaget karena teriakan sengaja dari arah

punggung Dhan. Mata mereka

seketika tertuju ke arah suara itu, seorang perempuan yang dihindari tadi-tengah tersenyum, dengan alis yang dinaik-turunkan, menatap Dhan yang sepertinya siap melontarkan gerutuan, tetapi tertahan di tenggorokan ketika sadar musuh sudah berada di depan mata.

"Astagfirullah." Nadila menggelengkan kepala sambil berdecak. Senyum jahil tadi menghilang dari bibir. "Karin lo tolak, anak baik-baik lo embat," semprotnya.

"Ngapain lo?" Sebenarnya bukan itu yang ingin Dhan ucapkan, konsentrasinya terganggu karena kehadiran Nadila yang tiba-tiba muncul. Sumpah, ia belum siap meladeni perempuan satu ini.

"Nonton, lah." Nadila mengibaskan rambut. "Jomblo, mah, bebas." Ada senyum bangga di wajahnya.

"Meskipun jomblo, lo tetap pelajar, seharusnya lo di sekolah sekarang." Dhan mendengkus.

"Punya kaca, Bang?" balas perempuan itu. "Tapi kelihatannya sekarang lo udah punya gandengan." Senyum jahilnya kembali terbit. "Bakalan ada hot news, nih, besok."

Dhan berusaha untuk tidak terpancing omongan Nadila. "Lo sendirian doang, 'kan?"

"Kepala lo habis kebentur, ya, Dhan?" Bukannya menjawab, Nadila balik bertanya. "Lo lupa gue jomblo?"

Dhan mendengkus. "Maksud gue, lo bareng temen kagak?"

"Sendirian gue." Nadila berdecak. "Sorry, gue nggak kayak lo yang bolos sekolah, jalan sama cemewew."

"Temen."

"Siapa yang nanya?"

"Serah lo, deh, La." Dhan memutar bola mata. "Dengerin gue."

"Selama telinga gue masih di samping kepala, gue tetap dengerin lo, kok." Perempuan itu menaruh satu tangannya di bahu Dhan. "Beib," tambahnya dengan nada bercanda.

"Gue serius." Dhan menepis tangan itu.

"Kenalin, dong," sela Nadila, matanya beralih pada perempuan yang berada di sebelah temannya. "Halo, gue Nadila, temennya Dhan." Ia mengulurkan tangan kepada Khanza.