"Aku pergi, Kak, Assalamualaikum," pamit Khanza kepada Andra yang sedang duduk di meja belajar sembari sibuk mengerjakan tugas.

"Wa Alaikum salam, bilangin ke Dhan jangan pulang malam."

"Iya, Kak."

Andra melihat dari celah pintu yang setengah terbuka, punggung sang adik menjauh dan hilang di balik pintu utama apartemen. Padahal adik perempuannya itu baru kembali bersama Dhan di jam hampir tiga sore, tetapi malam ini mereka kembali janjian untuk keluar. Entah ke mana, Andra tidak sempat bertanya karena sibuk dengan tugas yang sedang dikerjakan.

Andra yakin selama bersama Dhan adiknya akan baik-baik saja, apalagi lelaki itu selalu memastikan Khanza sampai dengan selamat dengan cara mengantar serta menjemputnya di apartemen. Se-benci apapun Dhan pada gedung bertingkat ini, ia tetap melakukannya. Andra tidak perlu merasa khawatir untuk saat ini.

---

"Hai."

Khanza terdiam di depan mobil yang beberapa hari ini ia tumpangi. Seseorang menyapanya dengan senyum lebar. Karena tak menyangka bahwa Nadila ikut bersama mereka, ia membalas sapaan itu dengan kaku. Khanza pikir malam ini ia hanya akan pergi bersama Dhan, membuatnya telah menyusun topik obrolan malam ini dengan sangat matang.

"Masuk, Za," ucap Dhan sembari membuka lebar pintu jok belakang.

Khanza mengangguk. "Iya."

Saat memasuki mobil tersebut, ia kembali dibuat terdiam ketika melihat sosok di balik kemudi. Leon, sudah dua hari mereka tak saling temu, seharusnya sekarang ia mengucapkan terima kasih, karena berkat lelaki itu Khanza bisa bertemu dengan Dhan.

"Hai, Le." Khanza memberanikan diri menyapa Leon.

"Hai, Za." Leon menoleh ke arahnya. "Sorry kalau rame, soalnya Dhan minta ditemenin, takut khilaf katanya."

Decakan terdengar dari Dhan yang baru saja masuk ke dalam mobil, duduk di sebelah Leon. "Lo yang maksa ikut," ujarnya membela diri.

"Iyalah. Gue, kan, pengin tahu Khanza orangnya seperti apa."

"Iya, gue juga." Nadila yang duduk di sebelah Khanza, mengedipkan mata ke arah Dhan.

Leon mendengkus. "Yang pasti dia lebih baik dari lo, La," ejeknya kepada Nadila.

"Iya tahu, gue kotor." Nadila mencebikkan bibir.

"Berantem dulu atau jalan sekarang, nih?" Dhan menengahi.

Bukannya Leon atau Nadila yang menjawab pertanyaannya, yang terdengar hanyalah suara Khanza yang tertawa kecil.