Kak Andra: Udah jam 11, pulang cepat.

Dua detik pesan tersebut terkirim, pintu utama apartemen Andra terbuka menampakkan Khanza yang masuk tanpa salam dan tanpa berniat untuk menyapanya. Aneh jika Andra tidak merasakan ada hal yang ganjil kepada sang adik. Dengan tanpa memikirkan apa yang terjadi kepada adiknya itu, ia menyusul Khanza masuk ke dalam kamar.

"Kamu kenapa, Dek?" tanya Andra sebelum Khanza menutup pintu kamar.

"Hm?" Dalam gumaman itu, Khanza bermaksud mengatakan jangan ganggu dirinya untuk saat ini.

"Dhan ngelakuin apa ke kamu?" tanya Andra lagi, kali ini suara beratnya terdengar tegas tak ingin menerima jawaban ambigu dari Khanza lagi.

"Nggak ada, kok, Kak," jawab Khanza. Tangannya hendak melepaskan hijab, tetapi detik kemudian ia urungkan niat tersebut.

"Serius?" Andra ragu. "Terus, kenapa muka kamu kusut kayak gitu?"

"Kakak menghina atau bagaimana?"

"Za." Dalam satu kata itu, Andra memperingatkan kepada sang adik bahwa ia serius.

"Aku baik-baik aja, kok, Kak," ujar Khanza, kali ini wajahnya ia paksakan untuk tersenyum.

"Serius?" Adiknya mengangguk. "Awas aja kalau Kakak tahu ada apa-apa." Andra mengeluarkan ancaman, yang mampu melunturkan senyum palsu perempuan itu.

"Kalau ada apa-apa?" Khanza hanya ingin memastikan kakaknya tidak akan melakukan hal yang buruk.

"Jangan ketemu Dhan lagi."

----

"Jangan ketemu Dhan lagi." Khanza mengulang-ulang ucapan Andra tadi. "Jangan ketemu Dhan lagi."

Ia tahu tak ada gunanya mengulang-ulang kalimat tersebut, tetapi untuk memastikan hatinya akan baik-baik saja setelah memutuskan untuk tak bertemu lagi, Khanza memilih mengulang kalimat tersebut. Ya, ucapan Andra bagaikan dukungan baginya untuk menjauhi Dhan.

Besok adalah hari selasa, Khanza terlanjur berniat kembali ke Semarang hari rabu. Namun, niat itu batal ketika sang abi menyuruh untuk cepat kembali ke Semarang karena uminya sendirian di rumah akibat ditinggal pergi pria itu untuk perjalanan bisnis. Alhasil besok pagi Khanza harus kembali sendirian tanpa diantarkan oleh Andra ke bandara, karena lagi-lagi kakaknya itu punya jadwal kuliah pagi.

Kejadian tiga jam yang lalu masih tergambar jelas di ingatan. Tatapan dingin Dhan, ucapan, rahang yang mengerat, sikap tak acuh pergi tanpa salam. Menakutkan menurut Khanza, sekaligus membuatnya terluka.