Kejadian empat jam yang lalu masih terekam jelas di kepala, Dhan menyembunyikan wajah di bantal. Seluruh tubuh seakan lemah untuk digerakkan, ia benar-benar merasa hancur sekarang. Hanya satu yang membuatnya semakin terluka, mengapa Khanza melakukan hal itu di saat ia masih terluka oleh perlakuan sang bunda.

Dhan menyesal mempercayai perempuan itu, seharusnya ia biarkan saja Khanza seperti orang lain yang tak tahu apa-apa dan lebih sering berkomentar.

Namun, Dhan tak bisa, untuknya seorang Khanza bukan lagi seperti orang lain. Perempuan itu berada di sana, saat kejadian dua tahun lalu, ikut menyaksikan pengkhianatan ayahnya, tetapi mengapa Khanza pun masih saja ikut berpihak kepada pria tersebut?

Dhan bingung, setelah kejadian ini akan bersikap seperti apa ia terhadap Khanza. Dalam tatapan perempuan itu, ia tahu terdapat luka atas sikapnya tadi. Ia benar-benar tak bisa memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya, dan untuk hubungan mereka yang telah maju selangkah, jujur, Dhan tak bisa mengambil keputusan untuk tetap maju atau mundur secara teratur.

Seharusnya bisa saja ia melupakan kejadian tadi dan kembali berhubungan dengan tenang bersama Khanza tanpa memedulikan apa yang telah terjadi. Namun, untuk bersama seseorang yang tidak sependapat dengannya, rasanya akan sia-sia.

Dhan khawatir akan melukai Khanza lagi, dan ia pun takut akan terluka lagi. Jika mereka terus berlanjut, kejadian ini akan terus terulang-ulang jika di antara mereka tak ada rasa saling mendukung.

"Aku harus gimana?" rintihannya.

Dhan menghela napas dengan sangat kasar, ia mengubah posisi terlentang menatap ke arah langit-langit kamar. Kemewahan yang dirasakan sekarang seharusnya sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bahagia, kenyataannya tidak sama sekali. Dhan merindukan kehidupannya di Semarang, ingin semuanya seperti dulu lagi, di saat ia hanya memiliki sang bunda, begitu pun sebaliknya.

"Lagi pula udah terjadi," ucapnya pasrah.

Mencoba berpikir positif, Dhan meraih gawai, sesuatu yang diabaikan setelah kejadian di apartemen Andra tadi. Nama Khanza terdapat di deretan chat yang terkirim padanya. Dhan bangkit, dengan perasaan campur aduk, ia membaca pesan yang dikirimkan perempuan itu.

Hanya ucapan permohonan maaf, tetapi meskipun begitu Dhan tersenyum. Besok tak ada alasan baginya untuk tidak menemui Khanza. Jika perempuan itu sudah meminta maaf, maka Dhan pun akan meminta maaf.

Memang setelahnya hubungan mereka akan tidak seperti dulu lagi, tetapi Dhan sangat berharap Khanza mau menerimanya yang seperti ini tanpa mempermasalahkan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Ah, lagi-lagi Dhan berharap seseorang berpihak kepadanya.