Sebelum memutuskan untuk memberikan lembaran uang kepada Nadila, Dhan menelepon neneknya dan meminta maaf karena beberapa hari ini merasa melakukan banyak pengeluaran dalam artian materi. Lalu, kenapa ia meminta maaf kepada neneknya dan bukan sang bunda, jawabannya, setelah kejadian di lift Dhan belum berniat mengobrol dengan wanita itu. Kurang ajar memang, tetapi apalah daya ua yang hanya ingin membuang jauh kekesalan tanpa melibatkan orang terdekat.

Dhan menatap kotak beludru berwarna merah di tangannya. Di dalam kotak tersebut terdapat gelang yang menurutnya benar-benar cocok untuk Khanza, seperti yang dikatakan Nadila tadi. Dhan harus akui, sekarang ia sependapat dengan Nadila. Oleh karena itu ia tak bisa mencegah keinginannya untuk memiliki gelang tersebut, sebagai permintaan maafnya kepada perempuan itu.

Mobil yang membawanya berhenti di basemen gedung bertingkat. Dalam satu minggu, entah sudah berapa kali ia datang ke tempat ini.

"Tunggu di sini ya, Pak," ucapnya kepada sopir.

"Iya, Den."

Dhan keluar dari dalam mobil. Alangkah beruntungnya ia ketika melihat Andra pun baru kembali dari kampus. Ia mendekati lelaki yang tak menyadari kehadirannya. Jadi,a apa salahnya Dhan menepuk bahu Andra yang terlihat lelah.

"Kak."

Andra menoleh. "Eh, Dhan?"

"Iya Kak." Dhan tersenyum canggung, jika harus berdua bersama Andra seperti saat ini, ia selalu merasa ingin mengurungkan niatnya. Namun, entah mengapa untuk bertemu Khanza, ia selalu siap pasang badan.

"Mau ngapain?"

"Ketemu Khanza, Kak. Nggak boleh?" Dhan merasa niatnya kembali menciut mendengarkan pertanyaan Andra yang seolah-olah sedang mengujinya.

"Boleh, sih." Lelaki itu memberi jeda, melirik mobil yang baru saja memasuki basemen. "Tapi, kan, Khanza udah pulang tadi pagi."

Dhan kaget, tak bisa berkata apa-apa.

"Emang, dia nggak ngasih tahu kamu?"

"Nggak, Kak."

Andra menghela napas. "Mungkin dia lupa. Soalnya mendadak juga, sih."

"Oh." Suaranya terbawa angin seperti bisikan.

Lalu, sekarang apa yang harus ia lakukan?