Ketukan jari di atas meja menjadi tanda bahwa seseorang yang duduk di sudut kelas masih bernyawa. Dhan menghela napas berat, tak berniat mengangkat wajah dari atas lipatan tangan. Setelah bel istirahat pertama berbunyi, ia sudah berada dalam posisi tersebut untuk merenung apa yang akan dilakukan untuk meminta maaf kepada gadis yang mengambil setengah isi otaknya.

Tadi pagi Dhan sudah menitipkan gelang tersebut kepada bundanya, dan hanya untuk sekadar informasi, sejak terakhir ia mengirimkan pesan kepada Khanza, perempuan tersebut belum juga membalas pesan darinya dan juga belum mengaktifkan ponsel. Dhan kembali menghela napas berat mengingat nasibnya yang akan selalu digentayangi rasa bersalah. Sungguh ironis nasibnya sekarang.

"Dhan."

Seseorang memanggilnya, Dhan sedikit mengangkat wajah untuk melihat sang pelaku. "Hm ...," sahutnya.

"Lo kenapa, sih, dari tadi pagi kayak nggak semangat?"

Pelaku tersebut adalah seseorang yang duduk di bangku depan Dhan, namanya Hayan, biasa dipeleset menjadi Ayang oleh teman sekelasnya. "Semangat gue hilang, Yan."

"Hilang kenapa?" Menurut penilaian Dhan, Hayan ini salah satu teman yang sangat peduli pada sesama.

"Dia udah pulang."

"Siapa?"

Pada ekor matanya, ia bisa melihat Hayan yang semakin mendekat, memberikan perhatian penuh hanya untuk dirinya. "Ada, teman gue," jawab Dhan apa adanya.

"Serius, teman doang?"

Dhan mengangguk.

"Kalau teman, doang, mana mungkin lo segalau ini," tembak Hayan yang membuat Dhan merasakan seseorang memukul dadanya.