"Kata Dhan, aktifin HP-mu, dia mau nelepon."

Khanza memutar ponsel di tangannya, pandangan lurus menatap dinding kamar, menimbang untuk mengaktifkan ponsel. Ucapan Rian tadi di sekolah masih terngiang di kepala, membuatnya tergiur untuk mengaktifkan ponsel. Dhan ingin meneleponnya, mungkin untuk membahas apa yang terjadi di malam itu atau untuk bertanya mengapa ia kembali ke Semarang tanpa memberitahu kepada lelaki itu.m

Menaruh ponselnya di atas nakas, Khanza bangkit keluar dari kamar. Ia sudah memakai baju rumah sejak selesai mandi tadi sore. Namun, ada yang berbeda dari seorang Khanza sejak kembali dari Jakarta,ia terus memakai hijabnya saat keluar dari kamar. Entah sudah saatnya atau Khanza hanya sedang kagum kepada seseorang yang selalu berada di sisi Dhan, yaitu Nada.

Ah, rasanya seperti ikut arus. Namun, ia juga merasa malu untuk melepaskannya.

"Umi," panggil Khanza kepada seseorang yang sedang menyiapkan minuman. Sepertinya mereka kedatangan tamu lagi.

"Za, kebetulan ada yang nyari kamu di depan." Alfiah, uminya Khanza tersenyum mengembang ketika mendapati sang putri berada di dapur dan bukan mengurung diri di kamar.

"Siapa?"

"Nggak usah banyak tanya, ayo ke depan," ujar Alfiah sembari membawa nampan menuju ruang tamu.

Adzan sholat isya telah terdengar satu jam yang lalu. Sudah dua malam keluarga itu menerima tamu di jam setelah waktu salat Isya. Khanza tahu apa yang mereka bicarakan, tetapi seperti anak pada umumnya, ia diperingati untuk tidak ikut campur. Namun, kali ini beda, selama berjalan menuju ruang tamu, dalam hati ia menebak-nebak siapa tamu yang akan ditemuinya sekarang.

"Om? Tante?" Mata Khanza membulat ketika melihat tamu yang datang menemui keluarganya malam ini. "Maaf, Khanza pulang nggak pamit ke Tante," ucapnya sembari melangkah mendekat kemudian salim kepada kedua orang tua Dhan.

"Nggak apa-apa, kamu juga lagi buru-buru, kan." Nada menepuk sofa yang ia duduki, meminta Khanza untuk duduk di dekatnya. "Ada titipan dari Dhan untuk kamu."

Banyak pertanyaan yang bermunculan di kepala Khanza ketika mendengar nama Dhan yang diucapkan dengan sangat tenang oleh Nada, di saat wanita itu pergi bersama pria yang dibenci oleh putranya.

Khanza tak bisa merespon, ia hanya bisa menatap Nada tanpa berkedip. Bukan titipan yang menjadi kabar bahagia baginya, tetapi sikap toleransi Dhan yang membiarkan wanita itu pergi bersama Kenan.

Mungkin dua orang dewasa itu pernah pergi bersama dengan sepengetahuan putra mereka, tetapi untuk secara terang-terangan rasanya baru kali ini terjadi. Khanza pun yakin dari wajah Nada, sebelum pergi ke sini, Dhan tidak mengeluarkan emosi kepada wanita itu. Ya, Khanza yakin.

"Kamu heran?" tanya Nada seakan-akan membaca isi kepala Khanza.

Dengan sangat kaku Khanza mengangguk. "Kok, bisa?"

Nada terkekeh. "Tante juga nggak tahu." Setelah mengucapkan itu ia merogoh tasnya dan memberikan kotak beludru kepada Khanza. "Ini dia yang bikin Dhan nggak marah lagi." Sebelum Khanza menerima kotak tersebut, Nada melihat perempuan itu tersenyum cerah.