Setelah dua hari bundanya berada di kota Semarang bersama seseorang yang masih ia benci, Dhan bertemu kembali dengan bundanya di rumah orang tua Viona. Di pagi buta ayah dari tantenya itu meninggal dunia karena penyakit jantung yang sudah lama diidap. Dhan sudah berjam-jam berada di rumah tersebut bersama kakek dan nenek, sedangkan pamannya masih dalam perjalanan menuju Tangerang untuk menjemput tante serta adik sepupunya.

Karena Dhan masih termasuk baru dalam keluarga ini, ia hanya bisa duduk menunggu seseorang yang dikenal datang mendekati. Ia pikir sang bunda adalah orang pertama yang akan mendekatinya, ternyata salah. Ketika ia melihat bundanya masuk ke rumah tersebut, wanita itu langsung mendekati jenazah Kakek Ahmad. Catat, ada Kenan yang mengekor dari belakang. Ketika melihat itu, Dhan mendengkus.

Menyadari kelakuannya, ia beristigfar di dalam hati menghilangkan semua kebencian untuk saat ini. Rumah duka semakin ramai didatangi oleh pelayat, Dhan mengungsikan diri ke teras samping rumah. Sepuluh menit berada di sana, Nevan datang sambil menggendong Nathan, kemudian menitipkan balita tersebut kepadanya.

"Di sini aja sama Kakak." Dhan memangku adik sepupunya. "Kita main game."

Bujukan Dhan tersebut sangat berhasil karena adik sepupunya berhenti meronta ingin ikut sang ayah. Sekitar dua puluh menit menjaga adiknya, ia dibuat terkejut mendengar teriakan seseorang dari dalam rumah. Merasa penasaran, Dhan masukkan ponsel ke dalam saku celana hitamnya, kemudian menggendong Nathan untuk diajak serta masuk ke dalam rumah.

Pandangan langsung tertuju kepada seorang wanita yang biasanya memakai baju terbuka, kini berpakaian sopan. Wanita itu menangis sambil meraung, Nada berada di balik punggung, memeluk untuk menenangkan.

Dhan masih mengenal Viona, meskipun penampilan sekarang berbeda. Ia masih mengingat tatapan penuh kebencian wanita itu, tetapi sekarang yang ada hanya pilu serta racauan kehilangan. Bundanya terus berada di sebelah Viona, masa lalu tak membuat hubungan keduanya renggang.

Serius melihat ratapan wanita itu, tanpa Dhan sadari seseorang menyentuh kepala Nathan yang masih dalam gendongannya. Ketika merasakan adiknya bergerak aktif seperti ingin digendong seseorang, ia menengok ke belakang. Betapa terkejutnya ketika sadar Kenan berada sangat dekat dengannya.

"Ikut, Om?" Kenan mengambil alih Nathan dari gendongan putranya.

Dhan menaikkan alis, untuk seseorang yang baru bertemu kekasih masa lalu, gerak-gerik Kenan sangat jelas terlihat tidak tenang. Apa salahnya ia berpikir ada seseorang yang merasa sangat khawatir sekarang. Apakah ini ada sangkut pautnya dengan hati?

Membiarkan adiknya dibawa oleh Kenan, Dhan memilih untuk duduk di sebelah sang kakek yang hari ini terlihat sangat terpukul. Ketika mendaratkan bokong di sebelah Kakek Ravi, ia baru sadar ternyata ayah dari Kenan juga berada di sana.