Suara gemericik daun diterpa angin terdengar jelas mengisi keheningan, gorden pun bergoyang memperlihatkan taman indah penuh bunga. Dhan merasakan kulitnya ikut terelus oleh hembusan lembut angin di petang ini. Suasana hening di teras rumah keluarga Mahadri menjadikannya berinisiatif untuk memecahkan keheningan tersebut.

Seharusnya ia diam saja di tempat selepas neneknya pergi meninggalkan Kenan, tetapi kaki dan juga hati bersekongkol untuk menampakkan diri di teras tersebut. Dhan tak tega, menurutnya Shinta berlebihan meskipun semua itu dilakukan demi dirinya, tetapi ia tak tega melihat anak yang sedang bersama Kenan.

Tangannya meraih sendok yang berada di lantai, kemudian mendekati Aji yang katanya adik angkatnya. Aji memiliki pipi gempil, tubuhnya pun cukup berisi, balita itu memakai kaus putih bergambar karakter animasi favorit anak-anak zaman sekarang, rambutnya hitam legam dan sepertinya dibiarkan memanjang.

Dhan perhatikan saat neneknya mengomel, Aji hanya diam seolah-olah mengerti posisi. Itu mengapa hatinya tergerak untuk mendekat, serta pipi Aji seperti memanggilnya untuk mencubit.

"Hai." Dhan tersenyum ramah. "Mau makan lagi? Kakak ambilin," tawarnya yang sepertinya dimengerti oleh anak itu.

Aji menggeleng. Pertama kali melihat balita itu, Dhan langsung tertarik ingin mendekat. Detik kemudian rasa iba itu berganti dengan keinginan untuk membuat Aji tak perlu tahu sekeras apa dunia ini.

Dhan hendak mengatakan sesuatu, tetapi suara Kenan terdengar begitu jelas di dekatnya. Ini mengganggu. Ia tersadar sedang berada di tempat yang sama dengan pria itu.

"Pakai sepatu, Nak. Kita pulang sekarang." Suara Kenan menginterupsi tanpa mempedulikan Dhan yang masih ingin berbicara dengan Aji.

Anak itu diam di tempat, masih menatap Dhan dengan mata bulatnya. "Aji mau nambah," ucapnya kepada Dhan, membuat lelaki di hadapannya  tersenyum lebar.

Dhan mengacak rambut Aji, kemudian segera berdiri. "Kakak ambilin dulu, ya."

"Aji, kita harus pulang, Nak."

"Nggak mau, Aji mau makan sama abang." Anak kecil itu mendekati Dhan kemudian menggenggam tangannya dengan sangat erat.