"Kenapa nggak ada yang nyangkut, ya?" Afif memandang frustasi ke sekeliling. Ia menghela napas, kemudian menoleh kepada kedua temannya. Hanya Hayan yang berekspresi sama dengannya. "Spesias cewek jomblo udah langka, ya?"

Hayan menghela napas. "Mungkin ada, tapi tinggal sisa."

"Udahlah, jodoh itu di tangan Tuhan." Dhan menepuk bahu Hayan, memberikan kekuatan dalam tepukan itu.

"Kalau itu gue juga tahu." Lelaki itu menepis pelan tangan Dhan yang masih berada di bahunya. "Tapi Dhan, yang namanya cowok itu mencari, sedangkan cewek menunggu. Kalau kita para cowok pasrah saja, nggak bakalan ketemu sama yang namanya jodoh."

"Masih ada yang maha kuasa yang akan mempersatukan," balas Dhan kalem.

"Ah, lo mah. Pakek acara ceramah segala." Hayan mengalah. Ia tak ingin membantah, karena sudah pasti temannya itu yang akan menang.

"Lo mah enak, jomblo tapi ada yang suka." Tiba-tiba Afif merasa iri pada temannya itu. "Cuma lo doang yang bego, pada nolak mereka semua."

Hari Minggu kali ini diisi dengan kegiatan jalan-jalan bersama kedua temannya. Leon tak ikut karena sedang kencan bersama sang kekasih. Status jomlo yang dipegang oleh Dhan, membuatnya harus terima berjalan tanpa pasangan bersama Hayan dan Afif.

Ancol ramai, lebih ramai dari pasar malam. Kedua temannya memilih tempat ini untuk mencari gebetan, sedangkan Dhan hanya ikut arus. Menurutnya masa bodoh dengan semua itu, pikiran ini masih melayang ke Semarang. Sampai sekarang Khanza belum bisa dihubungi, membuatnya semakin penasaran.

"Udahlah nggak usah sok drama, mending kita naik kora-kora," sarannya.

"Dhan, itu ide lo atau ide hati kecil lo?" tanya Hayan yang hanya Dhan jawab dengan menaikkan bahu sekilas.

Selama dua jam lamanya mereka bertiga mengelilingi dunia fantasi tersebut, tetapi di Minggu pagi ini belum juga menemukan perempuan yang ingin berkenalan. Jangankan berkenalan, mendapatkan tanda-tanda mengagumi saja, tidak. Mereka sedari tadi berpapasan dengan perempuan yang sudah memiliki pasangan, atau berkeluarga, atau mungkin masih jomlo, tetapi sudah dalam masa pendekatan. Hari ini Hayan dan Afif sangat kesal pada keadaan yang belum berbalik kepada mereka.

"Yang jomblo, yang jomblo, kalau cocok langsung gue nikahin," gumam Afif dengan suara pelan, yang hanya bisa didengarkan oleh kedua temannya. "Andai gue udah nikah, pasti hidup gue sebahagia keluarga itu." Ia menunjuk memakai ujung dagu kepada keluarga kecil yang sedang tertawa riang. "Eh, tapi Dhan?"