"Sialan!"

Dhan melempar ponsel ke sembarang arah ketika emosi benar-benar sudah di ambang batas. Dua puluh menit yang lalu Khanza memutuskan sambungan telepon secara sepihak, setelah mereka bertengkar karena alasan yang sama. Setelah sambungan telepon terputus, ia terus mencoba untuk menghubungi perempuan itu, tetapi tidak diangkat.

Masih merasakan marah, ia memukul meja belajar. Tangan terkepal dan rahang mengerat. Dhan akui ia salah karena telah membentak Khanza, tetapi ia tak bisa mengelak bahwa perempuan itu pun salah karena ikut campur.

Sejak awal Dhan sudah memperingati dirinya, bahwa hubungan ini tidak akan berhasil jika tak ada yang mau mengalah. Namun, ia selalu saja lupa daratan ketika sesuatu itu sudah berhubungan dengan satu nama, yaitu Khanza.

Jika diminta untuk jujur, Dhan benar-benar ingin bersama perempuan itu, tetapi di satu sisi ia belum bisa melupakan apa yang terjadi pada dirinya saat Kenan datang. Dulu, alasannya sangat membenci Kenan karena Khanza mengetahui tentang wanita lain dalam keluarga mereka.

Setelah bertemu kembali dengan perempuan itu, jujur Dhan masih merasa malu jika mengingat kenangan tersebut. Lambat laun, Khanza bertingkah biasa saja, membuatnya merasa tenang bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, untuk memaafkan Kenan, hatinya masih sangat keras dan memilih untuk begini saja.

Khanza menerimanya apa adanya tanpa melihat masa lalu dan siapa Kenan yang dulu. Lantas, apa yang membuatnya tetap berkeras kepala?

Jika Dhan berpikir memakai logika, yang Khanza katakan tadi memang benar. Saat ia memaafkan, maka beban dalam diri angkat terangkat. Ia tak perlu marah pada diri sendiri ketika melihat Aji mengganti posisinya, Dhan tak perlu marah melihat bundanya pergi bersama Kenan, serta yang lebih penting adalah ia tak perlu bertengkar dengan Khanza, apalagi sampai membentak dan membuat perempuan itu tersinggung.