Hening merayap menelusup sepi, ada jeda yang terjadi sebelum detak jam dinding tersamarkan oleh suara berat seorang pria. Langkah cepat terdengar mendekat, dua tangan ukuran orang dewasa menyentuh lengannya.

"Aku minta maaf." Entah untuk yang keberapa kalinya, Dhan mengucapkan kata maaf.

Malam ini ia benar-benar merasakannya. Bersua penyesalan yang lama berkedok salah, menumbuhkan asa yang kembali menyalah, memaafkan lara yang datang berkala. Semua itu bukan hanya sementara, Dhan sadar sudah waktunya untuk mengalah.

Ia menunduk, seperti seseorang yang melakukan dosa besar, Dhan tak bisa menatap wajah siapa pun yang wajib menghakimi. Sungguh, ini bukan seperti dirinya. Setelah merasakan di kelilingi orang yang menyayanginya, ia bersikap tak acuh meskipun membuat masalah. Seolah-olah dirinya seorang penguasa, benar bisa dibeli, seperti terhipnotis semuanya akan menuruti.

"Ayah maafin," ucap Kenan. Ada haru yang tak bisa dibendung, ia peluk putranya itu, rindu menguap menjadi satu.

Satu titik penyesalan datang. Ragu menatap wajah ayahnya, Dhan memejamkan mata sekejap meminta keberanian untuk menyelesaikan semua beban dalam diri.

Ia menggeleng mengatakan bahwa untuk saat ini tak bisa memaafkan diri sendiri. "Seharusnya nggak gini," protesnya pada sikap Kenan yang terlalu tenang.

Satu tangan pria itu mengelus kepalamya, tersenyum tulus melihat raut wajah sang putra yang begitu dekat. "Terus maunya gimana? Ayah harus marah-marah?"

Jujur, hari ini adalah hari yang sangat dinantikan. Dhan berada di hadapan Kenan, tanpa segan meminta maaf. Sebagai seorang ayah, selama ini ia tidak menyalahkan perbuatan Dhan kepadanya, maka dari itu ia menganggap anaknya tidak pernah bersalah, karena Kenan sadar perlakuan yang semena-mena, adalah hasil dari penolakan yang ia lakukan di masa lalu.

"Dhan minta maaf," ulang Dhan lagi.

Kenan menggeleng. "Dhan nggak salah, Ayah yang salah."

"Tapi—"

Ayahnya menginterupsi. "Ayah nggak apa-apa." Pria itu tersenyum menenangkan.

Bukan seperti ini akhir yang Dhan inginkan, bukan semudah ini. Namun, mengharapkan mendapatkan hukuman dari pria tersebut, rasanya sangat mustahil. Maka dari itu ia berikan senyum terbaik, meskipun pilu masih mengurung.

"Gitu dong, senyum." Kenan mengacak gemas rambut sang putra. "Kan, tambah cakep kalau lagi senyum."

Diperlakukan seperti itu, Dhan menahan lidahnya untuk tidak mendecak protes. "Jadi, kenapa Ayah ke sini lagi padahal lagi marahan sama nenek?"

Kenan menarik tangan dari atas kepala anaknya itu, ia mengerutkan kening. "Dhan mau baikan sama Ayah cuma buat nanyain itu?"

Ia gelengkan kepala cepat, sembari mengatakan. "Nggak."