Dua tahun berlalu, tetapi bangunan tersebut masih sama seperti saat ia menuntut ilmu di sekolah tersebut. Dhan menyusuri koridor, mengikuti langkah Della dan Khanza yang berjalan menuju bangunan kelas dua belas. Bangunan yang tak pernah ia huni dan juga tempat yang ia kira akan digunakan nanti ketika sudah berada di kelas dua belas.

Di saat harus pindah ke Jakarta, Dhan menelan kekecewaan. Seluruh perkiraannya yang telah dirangkai sejak menjadi murid sekolah tersebut—langsung menghilang dengan seketika. Dulu, ia mengejar jabatan menjadi ketua tim basket, tetapi kenyataannya ia harus pindah dan dengan lapang dada memberikan kesempatan kepada orang lain. Anggap saja sedang bermurah hati.

Sepanjang perjalanan, Dhan asyik memerhatikan sekolah yang sudah ditinggalkannya. Ia terus mengikuti Khanza serta Della, karena jika mereka berjalan berjejeran maka yang terjadi adalah koridor terpakai oleh mereka bertiga. Tentu saja ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi, lagi pula Dhan tidak ingin mengundang kehebohan dengan berjalan di sebelah mantan ketua OSIS.

"Sampai. Ini kelas kami," ucap Della ketika mereka telah sampai ke tujuan.

"Boleh masuk?" tanya Dhan.

Ada getaran kecil yang muncul di dada ketika menyadari suasana kelas sedang ramai. Suasana khas ketika jam istirahat kedua tidak lain dan tidak bukan adalah seperti ini. Para siswa dan siswi mengobrol bersama, saling melempar candaan, dan biasanya yang bertingkah konyol adalah kaum Adam. Demi menciptakan tawa mereka harus memutar otak untuk membuat lawakan. Hal serupa pernah Dhan lakukan ketika masih berada di sekolah tersebut, karena saat itu ia adalah pemimpin kelas, maka harus mencari cara untuk menyatukan kekompakan mereka.

Namun, saat ia melempar candaan yang pasti akan memicu tawa, ada satu perempuan yang tidak akan tertawa, yaitu Khanza. Perempuan itu duduk di bangku paling sudut, belajar adalah makanan sehari-hari dan diam adalah kebiasaanya. Hanya saja, di balik itu semua, ada senyum yang selalu Khanza sematkan untuk dirinya, membuat Dhan tetap merasa berhasil mempersatukan kelas tersebut meski perempuan itu tetap pada pendiriannya.

"Dhan, biar aku aja yang bawa belanjaanku," pinta Khanza sebelum Dhan masuk ke dalam kelas.

"Nggak apa-apa, aku antar sampai ke meja kamu."

"Tapi Dhan—" Bukannya takut merepotkan Dhan, melainkan ia tak ingin teman sekelas menggodanya jika melihat perlakuan lelaki itu.

"Meja kamu yang mana?" Dhan tidak menggubris permintaan Khanza, meskipun ia menyadari bahwa perempuan itu terganggu.

"Sebelah jendela baris ke tiga," jawab Della.

"Oh, oke. Aku antar ke sana."