Bel tanda proses belajar mengajar selesai, berbunyi. Khanza menghela napas lega karena ia bisa langsung pulang dan mengistirahatkan diri. Selama sisa pelajaran yang diterima, tidak ada sedikit pun masuk ke otaknya. Ini terjadi karena perhatian Khanza yang tersita oleh kedatangan Dhan.

Ia sudah menebak apa yang membuat lelaki itu nekat datang ke Semarang, tetapi ia tak bisa menebak apa yang terjadi nanti ketika mereka mengobrol serius membahas kejadian di malam itu.

Lima menit merapikan alat tulis, Khanza menoleh ke pintu untuk memastikan Dhan tidak berada di sana menunggunya. Ketika melihat pintu kelas hanya digunakan untuk keluar dari dalam kelas dan bukan masuk ke dalam kelas, ia menghela napas lega. Dipercepat gerakannya kemudian bergegas keluar dari ruang belajar itu.

Koridor dipenuhi banyak murid yang memiliki tujuan sama dengannya. Ingin menerobos, tetapi rasanya tidak sopan. Ia ikuti saja arus sembari menggunakan kerumunan itu untuk bersembunyi. Dengan cara tersebut, akhirnya Khanza bisa bernapas lega ketika sampai berada di area parkir sekolah.

Setiap hari ia pergi dan pulang sekolah menggunakan sepeda motor, dikendarai oleh sepupunya yang telah memiliki surat izin mengemudi. Dari tempatnya berdiri, Khanza bisa melihat perempuan itu sedang kepayahan mengeluarkan motor dari tempat parkir dikarenakan banyak siswa yang juga memiliki tujuan yang sama dengan sepupunya. Ia hendak melangkah ingin membantu, tetapi langkahnya terhenti karena seseorang menarik tasnya dari belakang.

"Lari dari aku, ya?"

Mendengarkan suara itu, Khanza menengok ke belakang. Seseorang yang dihindari kini tengah menatapnya dengan senyum mengejek. "Nggak, aku emang mau pulang," elaknya.

"Aku antar," tawar Dhan.

"Nggak usah."

"Nggak apa-apa, aku antar pakai grab."

"Nggak usah, aku pulang bareng sepupuku." Khanza mengalihkan pandangan, mencari sepupunya yang tadi sedang berusaha mengeluarkan motor dari tempar parkir.

"Si Elen?" tanya Dhan, ia maju selangkah berdiri di sebelah Khanza, ikut mencari keberadaan orang yang dimaksud. "Itu dia." Ia menunjuk seorang perempuan yang juga berhijab, sudah berada di atas motor, tetapi belum beranjak seperti menunggu seseorang. "Elen!" panggilnya.

Keramaian di area parkir tidak membuat Elen langsung menoleh ke arah mereka. Alhasil Khanza putuskan untuk melangkah mendekat. Dhan mengikutinya dari belakang, sebisa mungkin ia tidak menggubris keberadaan lelaki itu. Namun, sepertinya tidak bisa karena Dhan telah menyita perhatian banyak orang.

Ketika mereka sampai di tempat Elen menunggu, ketika itu pula sepupunya bereaksi berlebihan melihat sosok Dhan yang berada di belakangnya.

"Dhan!" pekik Elen tidak menyangka mantan teman sekelasnya dulu berada di hadapannya.