"Abi, sih, bikin umi marah." Khanza memutar pasta dengan garpu, yang menjadi santapan makan malamnya.

"Iya, Abi minta maaf. Lagian Umi juga salah, masak uang jajan kakak dikurangin cuma karena musibah itu."

Khanza tak membalas ucapan abinya. Kedatangannya di restoran ini untuk mengisi perut, karena uminya tidak ingin memasak makan malam, sedangkan asisten rumah tangga diancam untuk tidak memasak. Semua itu terjadi karena pertengkaran kecil antara kedua orang dewasa itu.

Alfiah mengurangi uang jajan Andra tanpa memberitahu Hermawan. Bagi Khanza, wajar saja abinya marah.

"Kan, kasihan kakak kamu, udah tinggal jauh dari kita, terus kekurangan uang jajan lagi," jelas Hermawan sembari membaca isi map yang ada di tangannya.

"Itu apaan, Bi?" tanya Khanza menunjuk map menggunakan garpu.

"Berkas."

Ia mengangguk mengerti, yang bisa ditebak, itu adalah tentang pekerjaan. Abinya juga tadi mengatakan akan bertemu klien di restoran ini, tetapi bukan di tempat umum, melainkan private room. Khanza terpaksa menunggu abinya sampai selesai pertemuan, karena sudah malam, ia takut untuk pulang sendirian ke rumah. Lagi pula, ia yang memaksa untuk ikut bersama pria itu, karena rasa lapar yang menggerogoti perut, sedangkan uminya melarang siapa pun untuk masuk ke dapur.

"Pak Hermawan." Seseorang memanggil nama pria yang duduk di hadapan Khanza, ia pun ikut menoleh.

"Ah, Pak Kenan." Hermawan berdiri kemudian menjabat tangan pria yang menyapanya tadi.

"Za, kamu, kok, di sini?"

Khanza yang tadi ingin berdiri untuk menyalami Kenan, terduduk kembali karena terkejut dengan kehadiran lelaki yang tadi ia temui di sekolah. "Dhan."

"Ah, iya, Pak. Ini anak saya, namanya Dhan." Kenan meminta Dhan mendekat dan bersalaman dengan Hermawan.

"Dhan, Om," ujar Dhan sembari bersalaman.

"Hermawan, abinya Khanza," balas Hermawan.

"Heh?" Dhan terdiam dua detik, kemudian menoleh kepada Khanza.