Suhu dingin kota Semarang tidak mampu membuat Dhan bergidik. Pada lantai yang tidak membuat kesalahan, ia mengentakkan kaki menandakan sedang marah saat ini. Berbalik kembali masuk ke dalam rumah, setelah mencoba menghilangkan kemarahan. Mungkin saja suasana hatinya tidak akan berubah jika sang ayah tak memutuskan untuk kembali ke Jakarta malam ini juga dengan alasan, besok Aji akan dibawa oleh neneknya ke Padang.

Dhan mendengkus, menutup pintu rumah, kemudian menuju kamarnya. Ia membereskan barang bawaan yang hanya beberapa lembar pakaian. Saat ini ayahnya tak bisa diganggu karena sedang meratapi Aji. Dhan tidak bisa menyalahkan orang tua itu akan sikap yang terlalu menyayangi. Namun, ia juga tak bisa menghilangkan kekesalan yang dengan tanpa aba-aba datang menghantam dada.

Aji, anak itu hadir di kehidupan sang ayah sekitar satu tahun yang lalu. Merupakan anak dari asisten baru Kenan, setelah Marcell memilih mengundurkan diri dan menghilang. Kedua orang tua anak itu serta kakaknya meninggal dunia karena kecelakaan, dua bulan yang lalu. Beruntung saat itu Aji sedang bersama neneknya di rumah, maka terhindar dari musibah tersebut.

Sesuatu yang belum bisa dipahami oleh Dhan, anak itu sangat dekat dengan Kenan. Sebelum ke Semarang, ia berniat untuk bertanya kepada bundanya, tetapi lupa karena terlalu senang mendapatkan izin dari wanita itu untuk ikut bersama ayahnya.

Meraih gawai di atas kasur, Dhan membuka ruang chat-nya bersama Khanza. Sebelum ia mengirimkan sesuatu, ia pastikan dulu jam belum menunjukkan pukul sebelas malam.

Rafardhan: Za, aku pulang malam ini.

Tidak ada balasan, Dhan menduga perempuan itu sudah tidur. Ia menaruh kembali ponsel yang baru dibeli kemarin pagi menggantikan ponsel yang ia rusaki—ke atas kasur, menyusul tubuhnya berbaring membuang rasa lelah akibat menahan amarah. Mungkin sebentar lagi sang ayah akan mengetuk pintu dan mengatakan sudah saatnya kita pergi, satu jam lagi jadwal pesawat berangkat. Mengingat itu, Dhan memukul kasur dengan sangat kesal.

Padahal ia sudah menyusun rencana apa yang akan dilakukan besok di kota Semarang ini sembari menunggu petang yang berarti jadwal kembali ke Jakarta sudah tiba. Dhan menghela napas kasar, ketika ia hendak bangun dari berbaringnya, Suara pintu kamar yang diketuk masuk ke indra pendengaran.

"Iya, Dhan udah siap-siap, kok," sahutnya, terdengar malas menanggapi ayahnya.

Jika pria itu merasa sedang dalam suasana hati yang kacau, maka Dhan harus katakan ia pun sedang merasa kacau karena kebahagiaannya hari ini harus menghilang hanya karena seorang anak yang berasal dari keluarga lain.

Dhan membuka pintu. "Berangkat sekarang?"

Ayahnya mengangguk. "Ayo."

Meraih ransel, Dhan mengikuti dari belakang. Di halaman depan rumah, sudah ada taksi yang menunggu untuk ditumpangi. Ia tidak tahu orang tua yang berjalan di depannya ini, sudah sangat siap untuk meninggalkan kota Semarang. Bagi Dhan yang lahir dan lebih lama dibesarkan di kota ini, hatinya sangat berat meninggalkan Semarang untuk yang kedua kalinya.

Gemerlap kota menemaninya selama perjalanan ke bandara. Lima menit berada dalam perjalanan, Dhan meraih gawai, kembali membuka ruang chat-nya bersama Khanza. Belum ada balasan, bahkan pertanda telah dibaca pun tidak. Dengan perasaan kalut karena terpaksa akan meninggalkan kota kelahirannya, Dhan mengetik beberapa kata di sana, dan tanpa keraguan mengirimkan sesuatu yang belum sempat ia sampaikan kepada Khanza.