Afif sudah kembali ke sekolah tiga jam yang lalu. Dhan sendiri yang mengantarkan temannya itu sampai di depan rumah. Setelah mengantarkan, ia bergegas ke kamar dan langsung meluncur ke alam mimpi. Matanya benar-benar berat saat itu, ia tak tahan lagi untuk segera merasakan kasur. Beruntung Dhan terbangun satu setengah jam sebelum Maghrib dan masih bisa melaksanakan salat ashar.

Setelah menunaikan kewajibannya, Dhan meraih ponsel yang berada di atas nakas. Membuka ruang chat-nya bersama khanza, ia menahan napas ketika melihat tulisan yang mengatakan bahwa perempuan itu sedang mengetik balasan, maka Dhan tak bisa berkutik menunggu.

Rafardhan: Za, kuliah nanti di Jakarta, ya. Aku tunggu kamu di sini.

Begitulah isi chat yang ia kirimkan kepada Khanza kemarin malam. Mungkin terdengar aneh dan sedikit memaksa, maka dari itu Dhan ingin tahu jawabannya jika ia dengan terang-terangan meminta perempuan itu untuk memilih kuliah di Jakarta.

Khanza: Aku nggak bisa janji, Dhan. Kasihan abi dan umi kalau aku tinggalin.

Ia berbaring, menarik selimut menutupi seluruh tubuh. Mengetikkan balasan pesan Khanza, Dhan tidak berniat keluar dari dalam selimut karena dalam khayalannya, ketika ia membuka selimut dan memperlihatkan wajah, ketika itu pula orang-orang akan menertawakannya.

Rafardhan: Oh, yaudah kalau gitu aku yang ke Semarang.

Tidak. Dhan tidak serius mengetikkan kata-kata itu. Ia pun belum memiliki niat untuk meninggalkan bundanya di kota ini meskipun ada banyak orang yang menyayangi wanita itu, tetapi ia tak ingin berada jauh dari wanita yang melahirkannya.

Sebagai satu-satunya anak dari Nada Adinan, maka Dhan memposisikan diri sebagai pelindung terdepan. Itulah alasannya tak ingin berada jauh dari bundanya, lagi pula Viona masih berkeliaran di Jakarta, tentu saja ia khawatir wanita itu berbuat jahat kepada Nada.

Khanza: Haha. Aku nggak bakalan anggap rencana kamu serius, jadi kita jalani aja dulu. Siapa tahu nanti kita dipertemukan dalam satu universitas.

Rafardhan: Ah, ademnya. Tapi kok bikin resah, ya.

Dhan mematikan layar ponsel, ketika merasakan seseorang membuka pelan selimut. Berpura-pura tertidur dengan gaya meringkuk. Tangan seseorang menyentuh dahi, memastikan suhu tubuhnya.

Ia sangat mengenal tangan sang bunda, tidak sebesar tangan yang menyentuhnya. Merasa asing dengan tangan tersebut, Dhan membuka mata kemudian melihat siapa pelaku yang sedang memastikan bahwa ia sedang sakit atau berbohong.

"Ayah?"

Ayahnya membuka lebar selimut yang digunakan ketika mendapatkan jawaban atas kebohongan.