"Serius, kamu nggak apa-apa?" Kenan menatap penuh kekhawatiran pada istrinya yang sedang terbaring lemah.

"Aku nggak apa-apa, Ken." Nada menyahuti, wanita itu membuka setengah kelopak mata untuk melihat Kenan. "Dhan nggak ada yang jemput, kamu jemput, gih."

"Terus, kamu sendirian?"

Pasalnya ia terpaksa meninggalkan pekerjaan karena sang istri yang sedang sakit. Sebenarnya tadi pagi ia sudah berat hati untuk meninggalkan Nada, tetapi rapat yang harus ia hadiri tak bisa dilewatkan.

Alhasil, istrinya sendirian di rumah, tak ada seorang pun yang bisa diminta untuk menemani karena memang mereka baru pindah rumah dan belum mempekerjakan asisten rumah tangga. Begitu pula dengan sopir, putranya mungkin sekarang sedang menunggu dijemput.

Ini hari terakhir Dhan mengikuti ujian semester satu di kelas XII SMA, otomatis pulang lebih awal, tidak seperti hari biasa.

"Aku telepon Pak Jaka buat jemput Dhan," ucap Kenan, ia meraih gawai dari saku celana. Belum juga menyalakan layar, Nada menahan pergelangan tangannya.

"Kelamaan, rumah Ayah jauh dari sekolah Dhan, belum lagi harus ngantar ke sini. Takutnya anakmu lagi nahan lapar, jemput dia, Ken."

"Masak aku ninggalin kamu sekarang." Kenan berada di dua pilihan. "Aku telepon Dhan, dia bisa pesan gojek."

Nada menarik genggaman tangan dari lengannya. "Terserah kamu. Kalau Dhan udah nyampe sediain makanan. Aku belum masak, kamu delivery aja."

"Iya," ujar Kenan, tangan mengarah ke kening Nada, berakhir pada belaian di puncak kepala. "Kamu istirahat, nanti aku yang urus Dhan."

Nada mengangguk.

Mereka baru pindah empat hari yang lalu, termasuk nekat karena pindah di saat belum menemukan asisten rumah tangga. Kenan merasa bersalah, memboyong keluarga tanpa ada persiapan. Alhasil, sang istri jatuh sakit sebab harus mengurus semuanya.

Ia kembali menyalakan layar ponsel, sebelum meninggalkan sang istri, tangan menarik selimut hingga mencapai leher istrinya. Wanita itu sedang beristirahat, ia takut mengganggu di saat menelepon Dhan. Kenan memilih untuk menjauh sebentar.

"Halo?"

"Dhan, Ayah nggak bisa jemput," ucapnya pada sang putra yang berada di ujung sambungan. "Bunda lagi sakit, nggak bisa ditinggal."

"Ini Dhan lagi nebeng di mobil Leon. Udah yakin Ayah nggak bisa jemput."

Karena sejak tinggal bersama, Kenan yang menjemput anaknya dari sekolah. Jam keluar sekolah yang sama dengan waktu istirahat kantor menjadikannya mudah untuk menjemput, beruntung di minggu ini ia tak punya kesibukan lebih.

Sebenarnya Dhan sudah bisa mengendarai mobil sendirian, hanya saja umur anak laki-laki itu belum mencapai usia yang sudah ditentukan memiliki SIM. Risiko anak yang terlalu cepat masuk sekolah.