"Enak, Bun?" tanya Dhan kepada wanita yang kini sedang disuapi ayahnya.

"Enak," jawab Nada. "Siapa yang hangatin?"

Dhan menunjuk sang ayah. "Oh, ya. Uang jajan Dhan berkurang karena beli makanan."

Orang tuanya saling tatap, seperti ia sedang mengatakan kesalahan besar telah membeli makanan. Padahal, maksudnya adalah uang jajan yang sudah ia kumpulkan untuk maksud dan tujuan tertentu.

"Mau Ayah transfer berapa?" Ayahnya bertanya, wajah pria itu terlihat serius.

"Lima juta cukup, Yah," jawabnya terlampau semangat. Ini rezeki, jangan ditolak.

Tepukan mendarat di paha ayahnya. Dhan mengamati itu, sang bunda kini sedang mendelik ke arah Kenan. Mereka berdua menyampaikan sesuatu dari tatapan tersebut.

"Jangan biasain anak," ucap bundanya, setengah berbisik.

Ah, Dhan tahu, untuk mendapatkan uang dari Kenan, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Harus ada persetujuan dari bundanya dan pasti akan melewatkan sesi interogasi terlebih dahulu, seakan ia adalah penjahat.

"Emang mau diapain uangnya?" tanya Kenan, sembari menyuapkan bubur kepada Nada.

Dhan pikir itu sengaja, agar bundanya sibuk dengan makanan daripada ikut masuk dalam percakapan mereka. "Mau liburan bareng temen. Kan, udah mau libur semester."

"Serius, cuma butuh lima juta?" Ayahnya memastikan bahwa ia tak salah memperhitungkan.

"Iya, serius. Dhan udah nabung dari beberapa bulan yang lalu."