"Emang gym di dekat rumah lo kagak ada?" tanya seseorang di seberang sana.

"Mana gue tahu, gue aja pindah ke sini belum cukup seminggu." Dhan menutup pintu kamarnya, ia keluar dari sana untuk bertanya kepada sang ayah yang lebih tahu.

"Elaah ... gue kalau kayak lo, yang pertama gue lakuin keliling sekitar rumah."

"Kalau di sekitar rumah nggak ada tempat gym," timpalnya.

"Bukan di sekitar rumah juga." Leon yang berada di ujung sambungan, terdengar kesal dengan jawaban yang ia berikan.

Di sini siapa yang salah? Dhan hanya menjawab apa yang Leon sampaikan. Menurutnya jawaban tadi sudah sangat pas. Jadi, lelaki itu tak perlu kesal dengan jawaban yang ia berikan.

Dhan sampai di ruang makan, sang ayah sedang menyiapkan makanan dengan bundanya yang duduk memperhatikan serta memberikan instruksi. Wanita itu dianjurkan dokter untuk banyak beristirahat, meski demam sudah turun.

"Dhan makan duluan, Ayah mau antar Bunda ke kamar," ucap Kenan.

"Bunda udah mau tidur?" tanyanya kepada wanita itu.

"Iya, kepala Bunda sakit."

Pada malam ini, ia kembali menikmati makanan sendirian di meja makan. Rumah mewah yang hanya ditempati tiga orang, rasanya benar-benar sepi. Ayahnya sedang berusaha mencari asisten rumah tangga, tetapi belum kunjung dapat.

"Le, lo masih di sana?" Dhan menaruh ponsel di atas meja, tangan mulai menyendokkan nasi ke piring.

"Hm ...."

"Jangan matiin dulu, gue butuh teman," akunya jujur. Ya, memang begitu adanya.

"Gue jadi serem sama lo."

"Rumah gue sunyi, nggak ada temen gue." Dhan mengatakan keadaannya sekarang.

Ia mulai menyantap makanan, rasanya sungguh enak. Kali ini Dhan akan memuji ayahnya atas pemilihan tempat membeli makanan. Meskipun bukan pria itu yang memasak, tetapi jika soal lidah ayahnya tahu tempat rekomendasi untuk segala jenis makanan.