"Pekerjaanmu masih banyak?" tanya Nada kepada Kenan yang sedang berkutat dengan laptop di pangkuannya.

"Dikit lagi." Kenan menyahuti, tetapi mata tak berpindah dari layar tipis itu. "Kamu tidur duluan aja."

Nada hanya mengangguk, hendak berbaring, tetapi ketukan di pintu menyita perhatian. Hanya satu orang yang bisa berbuat begitu di jam larut begini, yaitu Dhan. Anak mereka satu-satunya.

"Masuk," sahut Kenan, ia menarik pandangan dari laptop sekian detik untuk melihat pelaku ketukan pintu yang baru saja masuk.

"Bun, ini Om Ray mau bicara." Lelaki itu berjalan mendekati bundanya.

Kenan menilik keduanya secara bergantian, sang putra memberikan ponsel kepada istrinya dan diterima tanpa ada pertanyaan atau pernyataan terlebih dahulu. Seperti mereka tak terganggu dengan keberadaannya, lalu tentang pria yang ingin berbicara kepada Nada di jam seperti ini. Izinkan Kenan untuk memaki sosok itu.

Ia mematikan laptop, setelah menyimpan dokumen yang sedang dikerjakan. Menutup benda tipis itu, kemudian menjauhkan dari atas pangkuan ke nakas, Kenan memfokuskan perhatian kepada Nada yang sedang berbicara ramah.

"Dhan, bilang ke bunda loud speaker," ucapnya kepada anak laki-laki yang masih menunggu ponsel dikembalikan.

"Emang kenapa?" tanya Dhan, wajah putranya menyiratkan pertanyaan. "Itu teman bunda di Semarang, nggak perlu dicurigai."

"Anak kecil nggak perlu ikut campur," tegur Kenan.

"Lah, tadi pagi siapa yang ngatain Dhan udah gede?"

Baiklah, Kenan mengaku dirinya mengatakan itu setelah mencium kening istrinya untuk berpamitan ke kantor. "Dhan pingin Ayah sama bunda bertengkar?"

"Ken," Nada memberikan ponsel kepada Dhan, "kenapa harus sampai bertengkar? Dia cuma nanya kabar."