Butiran air beku berwarna putih, jatuh dari langit. Aku mengeratkan syal yang menggulung leher, tinggal beberapa meter lagi akan sampai ke apartemen, sebuah tempat berteduh selama tinggal di Australia.

Sudah berada di bulan Juni, salju turun menutupi jalanan ibu kota. Aku menyukai musim ini, karena bisa segera dipertemukan dengan keluarga. Libur dua minggu adalah waktu yang sangat berharga, pulang ke Jakarta dan bertemu anggota baru di keluargaku, rasanya tak bisa untuk menahan senyum.

Ponsel berdering, sebuah panggilan dari Ayah, mengisi kekosongan ketika sampai di apartemen. Pria itu selalu menyempatkan diri untuk menelepon di setiap hari, terkadang aku akan protes karena selalu menanyakan kabar. Namun, beliau hanya tertawa dengan alasan senang bisa membuatku marah.

Ya, keputusan untuk kuliah jauh dari orang tua, membuat Ayah kehilangan teman bercanda. Berbeda dengan Bunda yang jarang menelepon, tetapi wanita itu selalu tahu kapan waktu luangku, dan itu akan menjadi pembicaraan panjang kami selama terpisah.

Aku sering bertanya tentang calon adik, yang sekarang sudah benar-benar menjadi bayi kecil mungil. Sudah satu bulan setelah Risya terlahir, aku belum pernah melihatnya dengan mata sendiri. Sekecil apakah ia? Bagaimana reaksinya ketika aku gendong? Apakah ia akan tersenyum melihatku? Serta masih banyak lagi pertanyaan di kepala.

"Halo, Ayah?" sapaku pada seseorang di ujung sambungan.

"Assalamualaikum."

"Wa alaikum salam." Aku membalas. "Kenapa?"

"Kamu udah di bandara?" Pertanyaan yang baru ditanyakan sejam lalu oleh orang yang sama. Ya, kepulanganku kali ini sangat dinantikan keluarga.

"Belum, Yah. Ini lagi mau siap-siap, tadi keluar sebentar buat beli makan," ujarku.

Tak banyak barang yang kubawa, selain oleh-oleh untuk Ayah dan Bunda, serta beberapa barang kubeli khusus Risya. Jenis kelaminnya perempuan, sesuatu yang sangat mudah dicari. Aku mengandalkan warna, merah muda menjadi pilihan. Soal kualitas, nanti biar Bunda yang menilai.