Setelah Strata 2

Sapuan angin di kulit telanjang yang basah, membuat Dhan bergidik. Hari ke dua di kota Jakarta setelah kembali dari negeri kanguru untuk menyelesaikan studi strata satu dan duanya, ia memilih untuk menghabiskan aktivitas paginya dengan berenang di kolam yang berada di halaman belakang rumahnya.

Hubungannya dengan sang ayah semakin membaik, meskipun hidup terpisah selama beberapa tahun karena ia yang memisahkan diri untuk melanjutkan studi, tetapi dalam kesendirian Dhan tak memiliki alasan lagi untuk membenci ayahnya.

Dhan meraih handuk yang disediakan asisten rumah tangga di atas meja, ia mengelap rambut yang basah kemudian mengalungkan benda itu di leher. Menyeruput minuman dingin yang juga disediakan asisten rumah tangga, ia bersiap menyudahi aktivitas berenang. Jika tidak mengingat memiliki janji dengan teman SMA-nya, ia akan melanjutkan aktivitas paginya dengan menonton TV, sembari menunggu sang adik kembali dari sekolah.

Ya, akhirnya yang Dhan inginkan hadir juga. Namun, sangat disayangkan, ketika adiknya itu lahir, ia sedang sibuk dengan aktivitas kuliah. Mungkin memang Dhan bisa kembali ke tanah air di hari libur, tetapi tetap saja jarak dan kurangnya komunikasi mengakibatkan sang adik tidak terlalu dekat dengannya. Perlu beberapa hari untuk mendekatkan diri, apalagi adiknya ini tipe pemalu dan susah didekati.

Sebelumnya Dhan bilang tak ingin melanjutkan studi di luar negeri, yang sebenarnya niat itu benar-benar kuat ia genggam. Lambat laun atas bujukan bundanya dan juga ayahnya, hati Dhan tergelitik untuk merasakan hidup mandiri. Saat itu Dhan hanya menguji dirinya, seberapa kuat ia hidup sendirian di negara yang baru pertama kali ia pijaki. Beruntung di sana ada banyak orang Indonesia yang juga memiliki niat sama dengannya.

Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh, janji yang harus Dhan tepati adalah pertemuan di salah satu kafe yang berada di dekat sekolah SMA-nya dulu. Bukan untuk reuni, hanya perkumpulan biasa bersama teman sekawannya, dan mungkin mereka pun akan bertolak ke sekolah lama setelah menikmati makan siang untuk menghadiri acara perpisahan kepala sekolah mereka yang akan pensiun di tahun ini.

Setelah berganti pakaian dan meneliti pantulan bayangan di cermin, Dhan meraih ponsel, dompet serta kunci mobilnya di atas nakas. Ia mempercepat langkah menuju lantai bawah karena perjalanan menuju tempat yang dijanjikan akan memakan waktu yang lama dan jika Dhan tidak bergegas maka akan terlambat sampai di tempat tujuan.

Rumah yang sudah dihuni sekitar enam tahun tersebut, nampak sepi karena hanya dirinya penghuni rumah yang belum memiliki aktivitas tetap. Ayahnya berada di kantor untuk bekerja, bunda sedang sibuk menggeluti bisnis baru, sedangkan sang adik masih berada di sekolah untuk menuntut ilmu. Adik semata wayangnya kini sudah berusia empat tahun, gadis kecil itu lebih aktif menggerakkan anggota tubuh, daripada mengoceh seperti anak seusia pada umumnya.

Selama berada di Jakarta, belum ada pembicaraan tentang langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya. Sang ayah belum juga memberikan kode untuk menerimanya di perusahaan, begitu pula bundanya. Kedua orang tua itu hanya mengatakan habiskan waktumu untuk bersenang-senang, sebelum dirinya kembali sibuk dengan tanggung jawab. Pertanyaan yang berada di kepala Dhan adalah, tanggung jawab yang mana? Karena ada banyak pilihan yang berada di hadapan, tetapi kepastian belum juga datang.