"Gambar apa?" Dhan sedikit membungkuk, melihat ke arah buku gambar yang sedang dicoreti adiknya memakai krayon.

Tidak ada jawaban. Buku gambar yang menjadi perhatian Dhan, terangkat dan dibawa pergi oleh sang pemilik menjauh sekitar dua meter dari tempatnya. Seperti biasa, gadis kecil itu menghindar. Memasang senyum masam, ia menarik langkah kembali mencoba mendekati Risya.

"Ayah!" teriak gadis itu, memanggil ayahnya bermaksud meminta pertolongan. "Risya digangguin."

"Kakak nggak gangguin, cuma mau nemenin Risya gambar."

"Ayah!" teriak Risya lagi ketika melihat Dhan kembali melangkah mendekat.

Menggaruk belakang kepala yang tidak gatal, Dhan bingung harus berbuat apa untuk membuat anak itu tidak berpikiran negatif kepadanya. "Eh, ke mini market, yuk. Beli es krim," bujuknya.

Gadis kecil itu mengerutkan alis, mata menajam menatap Dhan. "Bunda!"

Sepertinya bujukan tersebut gagal. Ia memutar otak untuk mencari cara. "Ayah sama Bunda lagi nggak ada. Hayoo ... mau minta tolong ke siapa?"

Dhan tahu itu bukanlah bujukan, melainkan untuk membuat adiknya takut. Karena baru kali ini menjadi seorang kakak kandung yang dihindari, ia bingung harus berbuat apa. Jadi, apapun yang berada di kepala, dikeluarkan begitu saja.

"Suster!" Mata Risya mulai berkaca-kaca, beberapa detik kemudian suara tangisnya terdengar.

Dhan panik. "Heh, jangan nangis." Ketika ia ingin melangkah mendekat, ketika itu pula Risya semakin mengencangkan suara untuk menangis. "Iya, iya, iya. Kakak nggak mendekat, kakak di sini," ucapnya, benar-benar tidak beranjak dari tempat, sampai suster yang mengasuh adiknya datang mendekat.

"Kok nangis?" Dengan sangat perhatian wanita yang kira-kira sudah berkepala tiga tersebut, menghapus air mata sang putri di rumah ini.

"Kakak itu," Risya menunjuk Dhan, "gangguin Risya."

Dituduh seperti itu, Dhan hanya merespon dengan cara menggaruk tengkuk tak tahu harus berkomentar apa. "Saya balik ke kamar ya, Sus," pamitnya kepada wanita yang masih membujuk sang adik untuk diam.

"Iya, Mas," sahut Ima, memberikan senyum kepadanya. "Kalau Mas mau Risya deket sama Mas, jangan bujukin pakai es krim."

"Terus, pakai apa, Sus?" Dhan yang hendak menarik langkah untuk kembali ke kamar, mengurungkan niatnya.