Rumah terdengar ramai dengan suara tawa Nadila yang tidak direm. Dhan memutar bola mata, perempuan itu tidak peduli dengan tegurannya yang mengatakan untuk bersikap manis sebagai seorang perempuan.

Nadila dan ketidakpedulian tak bisa dipisahkan.

"Mau lagi?" tanya Khanza kepada gadis kecil yang duduk di sebelahnya.

Dibandingkan dengan ikut larut dalam tontonan aneh Nadila, lebih baik Dhan menikmati pemandangan seorang perempuan yang sedang menyuapi adiknya. Ah, tolong sadarkan dirinya, bahwa ini bukanlah surga.

"Ayamnya terlalu gede," kata Risya yang kini sedang mengangkat satu potong ayam goreng dari atas piring.

"Sini, biar kakak pilah," ucap Dhan, menawarkan diri.

Di luar dugaan, Risya menjauhkan tangan dari gapaian Dhan. Ah, ia ditolak di depan Khanza. Sekarang dirinya ingin mencari topeng untuk menutup wajah.

Khanza tertawa kecil. "Nggak mau sama kakak?"

Risya langsung menggeleng. "Kakaknya jahat, suka gangguin Risya."

"Bukan gangguin, tapi mau deketin Risya," ucap Khanza membuat gadis kecil itu mencebik.

"Kak aja belain dia?"

"Aja?" Dhan mengerutkan kening.

"Khanza, Risya manggil aku Aja dari kecil," sahut perempuan itu, menjawab kerutan di kening Dhan. "Biar kakak yang kecil-kecilin, ya," tawarnya kemudian mengambil ayam goreng yang berada di tangan Risya.

Dari jawaban Khanza tadi, Dhan sudah bisa menebak keduanya sering bertemu. Apalagi adiknya itu langsung menempel kepada Khanza saat mereka sampai di rumah ini.

Padahal ia sudah membeli ayam goreng untuk Risya agar adiknya itu mau dengannya, tetapi harus kandas karena ada yang lebih dikenal dari dirinya. Hah, harus sebesar apa usaha yang Dhan keluarkan?

"Kasihan Kak Dhan, itu kakaknya Risya lho," bujuk Khanza, sangat jelas ingin membantunya untuk dekat dengan adiknya.

"Nggak suka, dia nggak cantik kayak Kak Aja," celetuk gadis kecil itu yang disusul dengan suara tawa Nadila.

"Hahahaha ... Dhan, lo harus pakai rok dulu baru disuka sama adik lo!" Nadila sangat senang dengan penderitaan yang ia alami.

"Eh, bencong!" Dhan mulai sewot pada Nadila. "Pulang sono!" usirnya.

Nadila malah semakin tertawa, bantal sofa melayang mendarat di kepalanya. Sang pelaku semakin tertawa melihat wajahnya. Nadila benar-benar belum berubah.

"Kak Nadila berisik!" tegur Risya, kini tangan kecil itu sedang menutup telinga.

"Tuh, berisik," sahut Dhan setuju dengan teguran adiknya. "Usir aja, Sya ."

"Iiih ...." Gadis kecil itu mencebik. "Kak Aja, sebenarnya dia itu siapa, sih?"

Nadila tertawa lepas lagi, sedangkan Khanza menahan tawa, terlihat jelas perempuan itu menjaga perasaan Dhan.

"Risya," panggil Nadila setelah tawanya reda, "dia bukan siapa-siapa, hanya orang numpang tinggal di sini," ucapnya tanpa perasaan.