Sudah hari ketiga setelah pertemuannya dengan Khanza di rumah ini. Dhan berbaring di sofa ruang tengah, memainkan ponsel sembari sesekali melirik adiknya yang sedang bermain.

Ngomong-ngomong, Risya sudah mulai menerimanya.

Entah mengapa, hari ini Dhan ingin bertemu dengan Khanza. Waktu tiga jam yang mereka lalui tiga hari lalu tidaklah cukup untuknya.

Ia tak punya teman untuk diajak mengobrol, Dhan membutuhkan teman, termasuk Khanza. Beberapa hari ini hanya Risya yang menemaninya. Itu pun setelah sang adik pulang sekolah.

Nasib pengangguran.

Leon sedang co-ass, Afif sudah kembali ke Bogor untuk bekerja, lalu Hayan tadi bilang sedang berada di Bandung dalam pekerjaan lapangan. Semua punya kesibukan, sedangkan Dhan hanya berada di rumah tak tahu harus berbuat apa.

Nomor ponsel Khanza masih ia simpan, kendati sudah beberapa kali mengganti ponsel. Namun, tak tahu nomor itu masih aktif atau sudah diganti oleh pemiliknya.

Dhan mendial, jika tak dicoba maka tak akan tahu. Nada sambung terdengar, ia langsung bangkit dari berbaring, melangkah ke arah sang adik. Ketika suara sapaan dari ujung sambungan terdengar, ia menempelkan benda tersebut ke telinga Risya.

"Apa ini?" tanya adiknya heran.

Dhan mengedipkan mata memberikan kode kepada anak itu untuk membalas sapaan dari suara di seberang sana.

Ia tahu itu suara Khanza, Dhan sedikit gengsi untuk mengajak bertemu. Takut ditolak oleh perempuan itu.

"Halo," sapa Risya.

Dhan menjadikan sambungan telepon dalam mode loudspeaker, agar ia bisa mendengarkan suara perempuan itu.

"Risya?"

"Iya? Ini Kak Aja?"

"Iya, Sayang, kenapa nelepon? Ini nomornya Kak Dhan, 'kan?"

"Iya, hapenya mas."

"Mas?"

Ah, Dhan amat menyayangkan mengapa adiknya menyebutkan panggilan itu di saat seperti ini. Beruntung sekarang yang dihubungi adalah Khanza, semoga perempuan itu pasti langsung mengerti siapa itu mas.

"Mana masnya?"