"Lo dideketin ya sama Rega?" tanya Tiara tiba-tiba.

Aku mengernyitkan keningku sambil terus melahap siomayku, mencoba untuk tenang.

Tiara memakan lumpia isi ayam. "Ngaku aja deh Ren."

"Enggak," jawabku dengan singkat.

"Lihat deh ke meja pojok, daritadi dia ngeliatin lo," kata Sila.

Aku menatap ke arah meja pojok kantin, terdapat beberapa cowok yang aku ketahui adalah teman sekelasku dan pandanganku tertuju pada Rega yang sedang menatapku dengan tersenyum. Dia melambaikan tangannya padaku. Aku langsung mengalihkan pandanganku menatap Tiara dan Sila yang sedang menertawaiku.

"Tuhkan," goda Sila sambil tertawa pelan.

"Padahal juga enggak," kataku.

"Tadi pagi aja dia minta whatsapp lo ke gue," kata Tiara dengan santainya sambil sibuk memakan lumpia isi ayamnya yang tinggal separo.

"Hah, terus?" tanyaku dengan kaget.

"Ya gue kasih lah."

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, mencoba mencerna apa yang barusan dikatakan oleh Tiara.

"Ngapain dikasih?" tanyaku dengan panik.

"Biar lo bisa kenal lebih dekat sama Rega."

Sila tertawa pelan. "Santai aja Ren, nggak usah panik gitu."

"Rega baik kok dia nggak bakalan aneh-aneh ke lo. Santai aja Shiren," kata Tiara dengan nada yang seperti menenangkanku.

"Iya Ren, biar lo punya temen cowok, biar temen lo banyak juga. Mau sampe kapan lo jadi cewek yang super pendiem gini?" kata Sila.