Seorang guru matematika, Bu Tia, berjalan masuk dan memberi salam.

"Hari ini saya akan bagi kelompok secara acak, satu kelompok berisikan 4 orang. Kelompok ini akan berlaku sampai dua semester ke depan," kata bu Tia sambil menulis nama-nama di papan tulis. "Silahkan duduk per kelompok dan saya akan beri tugas," lanjutnya.

Aku mengernyitkan keningku saat aku melihat nama kelompokku.

"Rega? Kenapa harus ada Rega sih," kataku dengan lirih.

"Yaah kita enggak satu kelompok," kata Tiara dengan wajah kecewa.

Sila menghadap belakang sambil membawa beberapa buku dan alat tulis. "Yaudah gapapa, kan sama aja Ra."

"Iya sih."

Aku berjalan ke meja kelompokku. Rega menatapku dengan tersenyum. Hanya tinggal satu kursi kosong dan itu tepat di samping Rega. Aku langsung duduk. Di hadapanku terdapat satu orang cowok dan satu orang cewek yang melihatku dengan tersenyum. Aku membalas senyum mereka.

"Ini tugas kalian, yang harus selesai dalam waktu satu minggu ini, nama yang saya kasih garis adalah ketua kelompok, tidak ada protes apapun, silahkan dikerjakan," kata Bu Tia setelah selesai menulis di papan tulis.

"Kenapa harus aku sih?" kataku dengan lirih.

"Kenapa?" tanya Rega.

Aku menatapnya dan Rega tersenyum kepadaku. Kualihkan pandanganku ke dua orang yang ada di hadapanku.

Seorang cewek berambut pendek dengan gigi gingsul yang membuatnya terlihat manis melihatku. "Gue Vera."

"Gue Akbar," kata seorang cowok di sebelah Vera.

Aku tersenyum. "Aku Shiren."

"Oh ya gue Rega," kata Rega.

Kami langsung bagi tugas dan mengerjakannya.

"Kok cuma dibaca?" tanya Rega tiba-tiba.

Aku menoleh ke Rega dan mengernyitkan dahi.

"Whatsapp dari aku. Bales dong, jangan dibaca aja. Kalau aku telfon tuh diangkat jangan dibiarin aja."

Aku menaikkan sebelah alisku. "Biar?"

"Ehmmm, biar aku nggak kepikiran kamu terus," kata Rega dengan menyengir.

Aku hanya bergumam.

"Aku boleh ke rumahmu lagi?"

"Mau apa lagi?" tanyaku dengan mencoba tenang.

"Mau ngapelin kamu," kata Rega dengan tertawa pelan.

Aku hanya diam dan menatap ke lain arah.