Hari ini aku berangkat sedikit siang dari biasanya. Aku berjalan masuk ke dalam kelas, senyumku terbit saat melihat Sila yang sedang berbincang dengan Tiara. Tiga hari Sila tidak masuk pastinya aku sangat rindu, tidak ada Sila, aku dan Tiara merasa ada yang kurang.

"Ren, Sila udah masuk nih," teriak Tiara.

Aku duduk di bangkuku.

"Kamu baik-baik aja kan Sil?" tanyaku.

"Baik Shiren, gue rindu banget sama kalian," kata Sila dengan wajah yang sedikit pucat dan mata yang merah.

"Lagian lo kemana aja sih nggak masuk, dihubungin nggak bisa, kita dateng ke rumah lo juga sepi," kata Tiara dengan kesal.

"Gue ke rumah nenek di Bogor, gue kacau banget waktu itu sampai sakit juga, ini juga baru sembuh," kata Sila dengan mata berkaca-kaca.

"Kenapa?" tanya Tiara.

"Gue putus sama Reno." Sila diam sejenak. "Dia selingkuhin gue, gue lihat dia pegang-pegangan tangan mesra sama temen ceweknya, sebenarnya dia nggak mau gue putusin tapi gue udah sakit banget, kecewa sama dia," lanjut Sila.

Sila berkaca-kaca, aku mengelus bahunya untuk menenangkan.

"Reno tuh sialan emang. Lo tau siapa ceweknya?" kata Tiara dengan emosi.

"Gue inget sih wajahnya tapi nggak tau namanya."

"Kalau ketemu kita labrak aja, cewek perebut pacar orang tuh harus dikasih pelajaran," kata Tiara dengan menggebu.

"Udah udah," kataku.

"Lagian cewek itu mau aja juga sama Reno, pasti kan dia tau kalau Reno udah punya pacar," kata Tiara dengan emosi. "Lo yang sabar ya Sil. Gue emang nggak pernah diselingkuhin, tapi gue tau rasanya sakit banget pasti, gue ikutan kesel," lanjut Tiara.

"Jangan sedih, masih ada kita yang selalu nemenin kamu, masih banyak cowok yang lebih baik dari Reno," kataku.

Sila mengangguk dan tersenyum. "Makasih ya."

"Shiren," panggil Rega yang tiba-tiba berada di samping bangkuku.

"Ngapain lo Reg?" tanya Tiara.

"Gue kangen sama Shiren nih Ra."

Tiara dan Sila cekikikan menatapku. Aku menunduk menyembunyikan wajahku yang mungkin sudah sangat merah ini.

"Kok malah nunduk sih, kan aku pengen lihat kamu Ren," kata Rega yang berhasil membuatku menatapnya. "Nah kan, ciptaan Tuhan emang bener-bener harus disyukuri ya." Rega menatapku dengan ekspresi takjub.