Bel pulang sekolah berbunyi lima menit yang lalu, aku membereskan alat tulisku yang berserakan di atas meja.

"Lo jadi ikut ekskul seni lukis Ren?" tanya Tiara.

"Jadi, aku udah isi formulirnya, habis ini mau aku kumpulin, kenapa?"

"Gapapa sih, gue bingung mau ikut ekskul apa, jurnalistik enak kali ya?"

"Terserah kamu sih, kamu minatnya apa?"

"Nanti deh aku pikir-pikir dulu."

Sila membalikkan badannya ke belakang. "Gue juga bingung nih mau ikut ekskul apa."

"Katanya mau ikut bahasa Inggris?" kata Tiara.

"Ah iya deh bahasa Inggris aja." Sila merapikan poninya. "Gue ragu-ragu dari kemarin mau daftar."

"Gue juga daftar jurnalistik aja deh," kata Tiara.

Aku mengangguk.

"Gue seneng deh Ren lo udah nggak kaku kayak dulu lagi, pinter kan gue sama Sila bikin lo berubah?" Tiara meringis.

"Iya keren banget kalian." Aku tersenyum.

"Iya dong, kita gitu loh." Sila tertawa. "Jangan lupa baca buku yang kita kasih juga sampai habis biar lo bisa lebih membuka diri lo."

"Pasti."

"Enak kan bisa bersosialisasi sama yang lain? Bisa punya banyak temen yang akrab, bisa membuka diri lo, nggak malu-malu lagi di keramaian," kata Tiara. "Oh ya lo kayaknya juga harus belajar public speaking deh, lo kan pinter tuh kalau public speaking lo juga bagus lo pasti bakal dicari orang-orang tuh buat jadi pembicara di event-event atau yang lainnya gitu, kan lumayan bisa nambah uang, bisa nambah pengalaman juga."

Aku mengangguk. "Iya sih."