Aku duduk di kantin bersama Tiara dan Sila untuk mengisi perut. Bel istirahat telah berbunyi 15 menit yang lalu. Kantin sangat ramai dan bising.

"Kalian tau nggak sih, waktu gue daftar ekskul jurnalistik kakaknya ganteng-ganteng, kayaknya gue bener banget nih dan bakalan betah masuk ekskul jurnalistik," kata Tiara dengan memainkan rambutnya.

"Yeee lo nih apa-apa cowok ganteng, liat cowok ganteng dikit udah nggak tahan, gue kasihan deh sama pacar lo Ra," kata Sila.

"Kan lumayan Sil buat cuci mata." Tiara tertawa pelan.

"Terserah lo deh Ra." Sila memakan gorengannya.

“Sil, ada Reno,” kata Tiara dengan sedikit berbisik.

Aku melihat Reno yang sedang berjalan bersama seorang cewek dengan berpegangan tangan mesra.

Sila mengangkat kedua bahunya.

“Itu cewek selingkuhannya?” tanyaku.

Sila mengangguk. “Iya.”

“Masih mending lo deh daripada cewek itu, cantik juga lo, parah sih emang Reno, otak-otak buaya,” kata Tiara.

“Udah biarin, dia emang cowok nggak baik, bisa-bisanya ya gue kena tipu dayanya selama tiga tahun ini.” Sila tertawa hambar. "Emang sih, people come and go, but memories don't, gue masih susah ngelupain kenangan-kenangan masa dulu bareng dia," lanjut Sila.

"Butuh proses Sil, lo harus bener-bener berjuang. Tiga tahun bukan waktu yang singkat, itu lama banget, lo tiga tahun bareng Reno udah jelas pasti kalian ngebucin di tingkat yang paling tinggi, udah jelaslah bakalan lama juga ngelupainnya, pelan-pelan aja, pasti bakalan lupa kok," kata Tiara sambil mengaduk es jeruknya. "Gue dulu juga pernah gitu pacaran waktu SMP dua tahun dan putus waktu ujian nasional SMP, gila banget sih gue waktu itu nangis berhari-hari, nggak mau makan, udah pengen hilang aja gue dari bumi karena emang gue bucin banget sama dia, akhirnya gue juga bisa move on dari dia dan gue bisa nemuin cowok yang baik hati yang jadi pacar gue sekarang."

"Tapi malah lo yang sekarang nggak bersyukur punya cowok yang baik, lo masih suka ngelirik-ngelirik cowok lain," kata Sila.

Tiara meringis. "Iya sih.

“Hai cewek-cewek!” kata Leo yang tiba-tiba datang bersama Rega dan duduk di antara Sila dan Tiara.

“Hai Ren!” Rega duduk di sebelahku.

Aku tersenyum ke arahnya.