Aku duduk di kantin perpustakaan, menunggu Tiara dan Sila yang masih ke toilet.

Cuaca hari ini sangat panas, aku meneguk air mineralku sampai habis.

"Shiren."

Aku menoleh ke asal suara, kak Vino duduk di sampingku.

"Sendiri?"

"Lagi nunggu temen kak." Aku mengalihkan pandanganku dari kak Vino.

"Udah lama gue nggak ketemu lo."

Aku bergumam meresponnya.

Sejak aku dikunci oleh kak Mega di toilet  satu minggu yang lalu, memang aku tidak pernah bertemu lagi dengan kak Vino baik pertemuan sengaja atau tidak disengaja.

Jantungku berdetak lebih cepat, aku tak tenang dan gugup. Aku bergumam untuk menetralkan rasa gugupku. "Kak."

"Kenapa?" kak Vino melihatku.

Aku kembali bergumam. "Kita bisa kan nggak ketemu lagi?" Aku memberanikan diri untuk mengucapkannya kepada kak Vino. Aku tidak ingin kejadian waktu itu terulang lagi kepadaku, aku sangat takut.

Kak Vino menatapku dan mengerutkan keningnya, wajahnya nampak bingung. "Kok gitu? Emangnya kenapa?"

"Ada yang nggak suka kalau kita lagi bareng," kataku dengan lirih.

"Siapa?" tanya kak Vino dengan bingung.

"Kakak nggak perlu tau."

"Siapa sih emangnya? Kok lo tiba-tiba ngomong kayak gini?"

Aku hanya diam.

"Gue bahkan udah nyaman sama lo, gue bisa ceritain apa aja yang lagi gue rasain ke lo bahkan saat gue berada di titik yang paling rendah gue juga cuma bisa cerita ke lo, saat gue lagi nggak baik-baik aja cuma lo Ren yang bisa nyemangatin gue, nggak ada orang lain yang bisa nerima kayak lo." Kak Vino terdiam.  "Ternyata semiris ini hidup gue." kak Vino tertawa hambar dan mengalihkan pandangannya dariku.

"Kak, tapi kita emang harus ngelakuin ini, demi kebaikan kita berdua."

"Demi kebaikan kita berdua? Ini nggak baik buat gue Ren," kata kak Vino.

"Aku takut kak,"

"Takut kenapa? Siapa yang bikin lo kayak gini?"