"Shiren ngapain?" tanya Rega saat aku menumpuk beberapa buku di meja guru depan kelas. Ia menatapku dengan tersenyum.

Sebelum bu Endang-guru PPKN keluar kelas beliau menyuruhku untuk mengantarkan buku tugas satu kelas ke mejanya di ruang guru.

"Mau ke ruang guru nganter buku."

"Mau aku bantu?"

"Boleh."

"Kalian nanti nyusul aja ya ke kantin? Mau pesan apa?" teriak Tiara yang sudah berada di ambang pintu bersama Sila dan Leo.

"Siomay sama es jeruk," kataku.

"Gue siomay sama es teh," teriak Rega.

Aku mengangkat semua buku tugas yang ada dan diambil Rega beberapa buku hingga hanya menyisakan lima buku ditanganku. Aku melihat Rega yang membawa banyak buku.

"Yuk." Rega melangkah terlebih dulu.

"Rega setengah-setengah aja, nanti kamu keberatan." Aku melangkah menyusul Rega.

"Enggak kok, udah kamu dikit aja bawa bukunya biar nggak capek." Rega melihatku.

"Mama aku seneng banget lo habis ketemu kamu kemarin, mama udah cocok banget sama kamu, kamu bakalan jadi mantu mama aku."

"Ngomong apa sih Rega?" Aku pura-pura tidak paham.

"Shiren mah suka gitu, nggak peka." Rega memasang wajah kesal.

Aku tertawa pelan.

"Kapan-kapan ke rumah aku ya? Ditungguin mama lo."

"Iya Rega, tapi nggak janji ya?"

"Kok gitu? Harus janji dong, kan kamu calon pacar aku jadi harus pernah ke rumah aku."

Hatiku berdesir, pipiku terasa panas, sepertinya sudah merah padam seperti tomat.

"Iya nggak?"

"Iya deh iya."

"Iya? Kamu calon pacar aku?" Rega melihatku dengan tersenyum.

"Udah ah Rega nih apaan sih." Aku menunduk malu.

"Lucu banget sih calon pacar aku," kata Rega dengan gemas.

Aku hanya bisa tersenyum. Ada puing-puing bahagia yang aku rasakan.

Aku melangkah masuk ke dalam ruang guru.