"Ke kantin perpustakaan aja yuk, lagi pengen ke sana," kata Tiara saat bel istirahat berbunyi.

"Boleh," jawab Sila.

"Yuk Ren."

Aku berjalan beriringan bersama Tiara dan Sila.

"Awww," pekik Tiara dengan memegangi rambutnya.

"Lo ya bisa-bisanya narik kuncir rambut gue." Tiara berbalik ke belakang dan mendapati Leo dan Rega yang sedang tertawa. "Jadi berantakan nih." Tiara memukul Leo berkali-kali hingga Leo berlari dan di kejar oleh Tiara di sepanjang koridor yang sedikit ramai.

"Balikin nggak kuncir rambut gue," teriak Tiara. "Leo ih, berhenti!"

Aku dan Sila menggelengkan kepala sambil menatap mereka berdua yang sudah berlari jauh.

"Mereka berdua tuh berantem mulu deh," kata Sila.

"Biarin biar bahagia." Rega tertawa pelan.

"Nanti bisa-bisa jodoh tuh mereka berdua." Sila tertawa.

"Aminin nggak?" tanya Rega.

"Bisa aja deh." Aku tertawa pelan.

"Kalian mau kemana?" tanya Rega sambil menatapku.

"Ke kantin perpus," jawab Sila.

"Yuk, pasti Tiara sama Leo udah sampai sana duluan." Sila melangkah menarik tanganku.

Sampai di depan perpustakaan terlihat Tiara yang bersandar di dinding perpustakaan sambil merapikan rambutnya yang terurai.

"Mana Leo?" tanya Rega.

"Nggak tau, dia tuh ngeselin banget deh." Tiara merapikan rambutnya.

"Nih kuncir rambut lo." Leo tiba-tiba muncul dari balik dinding dan memberikan kuncir rambut Tiara.

"Ngeselin banget lo." Tiara mengambil kuncir rambutnya di tangan Leo dengan kesal. "Yuk, laper gue."

Kami masuk ke dalam perpustakaan. Kantin perpustakaan tidak terlalu ramai, setelah memesan makanan Tiara memilih duduk di bangku pojok kantin.

"Eitss, gue mau duduk di sebelah Shiren, lo kayak nggak tau aja biasanya gimana, biasanya kan gue selalu deket Shiren duduknya." Rega menahan Leo yang akan duduk di sebelahku.

Leo menyengir. "Bercanda yaelah." Leo beralih duduk di sebelah Tiara.

"Ngapain duduk di sini sih, di sebelah Sila kan juga kosong," kata Tiara dengan sewot.

"Galak amat sih, suka-suka gue lah," kata Leo.