Jam mata pelajaran terakhir hari ini kosong, bu Tia-guru matematika izin tidak masuk. Leo duduk di sebelah bangku Sila dan Rega menarik kursi yang kosong untuk duduk di sebelahku.

"Shiren!" sapa Rega.

Aku tersenyum menatapnya.

"Lo beneran ikut ekskul sepak bola Reg?"

tanya Tiara.

Rega mengangguk. "Iya, kenapa?"

"Lo pinter sepak bola?" tanya Sila.

"Kalian emang nggak tau kalau Rega pinter banget main sepak bola? Tiga tahun di SMP kan dia kapten sepak bola sampai pernah turnamen di Malaysia sama Jepang dan dua-duanya masuk juara," kata Leo sambil mengunyah permen karet.

"Wiiih gilaa, lo kok nggak cerita-cerita sih sama kita Reg," kata Tiara.

"Enggak cerita juga kalian bakalan tau. Soalnya kan Leo ember," kata Rega dengan santai.

"Apaan lo? Bisa-bisanya ngatain gue ember." Leo memukul lengan Rega. "Kita berlima kan udah deket, jadi ya biar saling tau aja, bener kan?"

"Terserah lo Le," kata Rega.

"Ternyata tuh waktu kemarin dia ngilang, dia tuh ada urusan sama pak Eko guru olahraga sekaligus pelatih ekskul sepak bola, dia dijadiin kapten sepak bola sekolah kita soalnya kakak kelas yang jadi kapten udah ngundurin diri."

"Bener lo Reg, emang Leo ember sih." Tiara tertawa pelan.

"Iya juga sih ya." Leo meringis dan menggaruk kepalanya yang sepertinya tidak gatal.

Rega bergumam. "Bener kan kata gue?"

"Ren lo harus bangga sama Rega," kata Sila.

Aku tersenyum tipis.

"Kok lo bisa jago banget main sepak bola? Hobi dari kecil? Atau gimana?" tanya Tiara.

"Dari kecil udah suka main sepak bola terus sama papa diikutin sekolah sepak bola mulai gue TK sampai SMP kemarin gue keluar dari sekolah sepak bola dan gue emang udah masuk beberapa club sepak bola dari TK dulu jadi juga udah sering ikut turnamen-turnamen."

Tiara mengangguk paham. "Shiren beruntung tuh pasti kalau pacaran sama lo."

"Apa sih Ra?" Aku tertawa pelan.

"Ren, pulang sama aku yuk. Aku mau ajakin kamu ke rumah, mama nanyain kamu mulu, nggak sabar katanya mau ketemu kamu."

"Cieee, tuh Ren ditungguin tante Rani tuh, gas aja deh," kata Leo.

"Iya Ren mau aja tuh, kapan lagi ada orang tua baik kayak gitu," kata Sila.

"Jangan nolak deh Ren," kata Tiara.

"Gimana?"