"Gue mau nanya deh, kalian milih dicintai apa mencintai?" tanya Leo.

"Kenapa emangnya?" tanya Tiara. "Random banget pertanyaan lo." Tiara meneguk air mineralnya.

"Kesambet apa lo tiba-tiba nanya gitu?" Rega tertawa pelan.

"Udah lah jawab aja," kata Leo.

"Dicintai sih kalau gue," jawab Tiara.

"Kenapa dicintai?" tanya Leo.

"Kalau mencintai banyak sakitnya, belum lagi kalau orang yang kita cintai itu nggak cinta balik sama kita, sakit kan?" Tiara berhenti sejenak. "Kalau dicintai kan enak kita bisa ngerasa bahagia dan nggak banyak ngerasain sakit, tapi ya yang paling pas mencintai dan dicintai sih, biar sama-sama ngerasa bahagia dan nggak ada yang merasa tersakiti."

"Bener tuh, emang ya yang paling bener tuh mencintai dan dicintai, tapi di kebanyakan orang itu emang awalnya susah banget, tapi lambat laun juga bakalan terjadi," kata Rega.

"Kayak Rega sama Shiren gak sih?" tanya Tiara.

"Bener kayaknya." Aku tertawa pelan.

Rega tertawa. "Emang iya, awalnya gue yang menggebu-gebu mencintai Shiren dan lambat laun juga gue dicintai sama Shiren, jadi ya nggak langsung sama-sama cinta dan tentunya harus butuh perjuangan."

Leo mengangguk singkat.

"Kenapa sih? Aneh banget loh tiba-tiba lo nanya gituan," kata Tiara.

Leo bergumam. "Kepo deh, orang gue cuma nanya." Leo menjulurkan lidahnya ke arah Tiara.

"Ngeselin emang." Tiara melengos. "Yuk ke kelas, tugas gue ada yang belum nih." Tiara bangkit dari duduknya.

"Lo kalau di rumah ngapain aja sih Ra? Tugas jarang dikerjain," kata Leo yang masih sibuk dengan minumannya.

"Ah lo bawel deh Le. Lo juga belum ngerjain kan?"

"Iya belum juga sih." Leo tertawa pelan dan menggaruk kepalanya yang sepertinya tidak gatal.

"Dasar." Tiara memutar bola matanya.

Tiara berjalan lebih dulu bersama Leo sambil bercanda di sepanjang koridor menuju kelas. Aku dan Rega berjalan bersisian di belakang mereka. Hari ini Sila tidak masuk karena ke luar kota ada keperluan keluarga.