"Hari ini cukup sampai di sini, untuk pertemuan selanjutnya di semester depan kalian bisa menggambar karikatur dengan materi yang telah saya jelaskan barusan karena saya tidak bisa datang. Karya karikatur bisa dikumpulkan dan akan saya cek sejauh mana kemampuan kalian. Tema karikaturnya bebas mau gambar apa, pilih yang mudah tapi yang menghasilkan gambar yang terlihat keren. Selamat UAS untuk minggu depan." Bu Mia pembimbing ekskul seni lukis berjalan keluar ruangan.

"Karikatur?" tanya Tea.

"Kenapa?"

"Gue nggak pernah bikin karikatur, susah nggak ya? Tapi kayaknya susah banget deh." Tea membereskan alat tulisnya.

"Aku pernah sih bikin tapi ya gitu belum nguasain sepenuhnya. Iya sih lumayan susah kalau menurutku," kataku.

"Nanti bantuin gue ya Ren?" Tea meringis menunjukkan deretan giginya.

Aku mengangguk. "Iyaa."

"Serena."

Aku menoleh ke asal suara.

"Kakak nyebelin itu lagi," batinku.

"Kok Serena? Kan Shiren," kata Tea dengan polosnya.

"Kenapa emangnya hah?" tanya kak Malvin dengan nada menentang.

Tea gelagapan. "Eh, gapapa kok kak. Shiren aku duluan ya." Tea berlari pergi, sepertinya dia takut dengan kak Malvin.

"Gambar lo?" Kak Malvin menunjukkan gambarku yang dipegangnya.

Aku menatapnya dengan datar.

"Yakin lo nggak mau ambil? Sebelum gue tempelin lagi di jendela kelas gue." kak Malvin tertawa pelan.

Aku menghembuskan nafasku kasar dan hanya diam tanpa mau meresponnya, aku berjalan melewatinya dan keluar ruangan ekskul.

Gara-gara bertemu kak Malvin kemarin dan ucapannya yang sangat aneh itu, Rega menjadi sering diam dan tidak seperti biasanya.