Aku berjalan bersama Rega di koridor sekolah, masih sangat sepi, belum banyak siswa-siswi yang datang, mungkin semuanya masih betah di rumah dan terbiasa dengan liburan semester kemarin.

"Rega!" panggil pak Eko guru olahraga.

"Eh iya pak?"

"Pacar kamu nih?" pak Eko melihatku dengan senyum jail.

"Iya pak, kenapa? Cantik kan?" Rega tertawa.

"Apasih Reg," kataku dengan lirih.

"Aku duluan aja ya, kamu ngobrol sama pak Eko aja dulu," kataku.

Rega mengangguk dan tersenyum.

"Mari pak." Aku tersenyum kepada pak Eko yang dibalas dengan senyuman juga.

Aku berjalan pelan di koridor sekolah.

"Pacar lo mana?"

Aku berhenti melangkah karena dihadang oleh kak Mega di depan kelasnya.

"Lo masih pacaran kan sama pacar lo itu?" tanya kak Mega dengan tatapan tajam.

Aku mengangguk pelan.

"Bagus deh kalau gitu, jadi lo nggak bakalan deketin Vino lagi." kak Mega tersenyum miring.

"Oh jadi lo yang ngebuat Shiren ngejah dari gue?" tanya seseorang yang tiba-tiba datang dari samping kelas. Kak Vino.

Wajah kak Mega merah padam. "Eh bukan gitu Vin, gue bisa jelasin," kata kak Mega dengan gelagapan dan memasang wajah sok cantik di depan kak Vino, sikapnya berubah 360 derajat dengan sikapnya saat di depanku tadi.

"Bukan gitu apa? Nggak usah dijelasin lagi, kata-kata lo tadi udah buat gue paham semuanya, emang kita ini apa sih? Lo lupa kalau kita ini bukan siapa-siapa? Gue aja nggak pernah nganggep lo ada, lo emangnya nggak capek ngejar-ngejar gue terus? Mending lo pergi deh dari hidup gue dan berhenti ngejar-ngejar gue," kata kak Vino dengan nada tinggi.

"Shiren, kenapa?" Rega datang dengan bingung dan menggenggam tanganku lembut.

"Kakak lagi, mau ngapain lagi? Mau maki-maki Shiren lagi atau mau ngunciin Shiren lagi di toilet?" Rega menatap kak Mega tajam.

"Lo jahat banget ya. Lo masih berharap ngedapetin gue? Lo masih berharap jadi pacar gue? Bisa-bisanya lo bersikap kayak gitu cuma buat ngambil hati gue, yang ada gue makin muak ke lo, jangan gangguin hidup orang yang ada di deket gue. Inget ya! Gue nggak pernah nganggep lo ada!" bentak kak Vino.

Aku menatap kak Vino dengan perasaan takut, kak Vino benar-benar marah kepada kak Mega.

Kak Mega hanya diam dengan matanya yang berkaca-kaca.

"Jangan gangguin  pacar gue lagi kak," kata Rega dengan penuh penekanan sambil menatap kak Mega tajam.

"Yuk kita pergi." Rega menarik tanganku pelan.

"Shiren!" panggil kak Vino.

Aku dan Rega berhenti melangkah.

"Maaf ya."