Aku duduk di kursi pinggir lapangan melihat Rega dan teman-temannya yang sedang berlatih sepak bola untuk turnamen. Sesekali Rega melihatku dengan tersenyum.

"Hei Ren!" kak Vino tersenyum dan duduk di sebelahku.

"Hai kak." Aku tersenyum dan kembali melihat Rega.

"Apa kabar Ren? Udah lama banget kita nggak ngobrol," kata kak Vino.

"Baik, kakak?" Aku beralih melihat kak Vino yang sedang melihatku juga.

"Lo kan tau, gue selalu nggak baik-baik aja." kak Vino tertawa garing.

"Ada masalah lagi ya?" tanyaku.

Kak Vino mengangguk. "Gue udah nggak tinggal di rumah gue lagi."

Aku mengerutkan keningku. "Kakak pergi dari rumah?"

"Iya, sekarang gue ngekos di deket sekolah, lumayan juga sih buat ngelatih hidup mandiri dan buat nenangin diri sendiri, kasihan mental gue kalau terus-terusan tinggal di rumah."

"Emang nggak bisa di selesain baik-baik ya? Kakak nggak harus pergi dari rumah kan?"

"Gue harus pergi dari rumah Ren, gue udah nggak tahan, terakhir kali gue pulang ke rumah sekitar jam 8 malam, gue dihajar habis-habisan sama papa gue dan akhirnya gue pergi dari rumah, gue bener-bener udah nggak tahan."

"Jangan terus-terusan pergi dari rumah kak, se enggak sukanya papa kakak ke kakak pasti papa kakak nyariin kakak, pasti papa kakak khawatir sama kakak, semuanya pasti akan baik-baik aja seperti semula kalau dibicarain secara baik-baik kak."

"Nggak bisa. Selama ini gue udah berjuang buat hidup gue agar gue selalu ngerasa hidup dengan baik-baik aja di keluarga gue, tapi apa nyatanya? Gue malah hancur, terpuruk, tertekan, gue udah capek sama semuanya."

Aku menghembuskan nafasku pelan. "Ada banyak cara untuk memperjuangkan hidup di dunia ini, jangan nyerah, inget udah sampai mana berjuang, udah seberapa banyak luka yang tergores pada hati, udah seberapa banyak air mata yang tumpah. Setiap orang berhak menang dalam memperjuangkan hidupnya masing-masing." Aku diam sejenak. "Kakak pasti bisa ngelewatin ini semua, semua akan kembali baik-baik aja, jangan nyerah sebelum kakak menang." Aku tersenyum menatap kak Vino yang mendengarkan perkataanku, aku mencoba untuk menguatkannya, walaupun aku tau itu tidak akan sepenuhnya membuat kak Vino kuat bahkan mungkin tidak sama sekali.

Kak Vino menghembuskan nafasnya pelan. "Gue bakalan pulang kalau gue udah siap dan bisa nerima semuanya dengan lapang."

"Semangat kak, aku tau kakak kuat." Aku tersenyum.

"Makasih ya."

"Terus kakak gimana menuhin kebutuhan kakak?"

"Ada sih uang tabungan gue, cukup kalau buat hidup 2 bulan ke depan, tapi sekarang gue juga udah kerja paruh waktu di tempat ekspedisi, lumayan juga gajinya bisa buat nabung juga."

Aku mengangguk mengerti. "Kalau butuh bantuan jangan sungkan bilang ke aku ya kak, aku pasti bakalan bantu."