Aku melangkah keluar rumah saat mendengar ketukan pintu.

Aku menoleh kanan kiri dan tidak menemukan seorang pun. "Kok nggak ada orang sih."

Mataku tak sengaja melihat sebuah kotak dan buket bunga mawar merah yang tergeletak di depan pintu.

Aku mengerutkan keningku, aku meraih kotak dan buket tersebut.

"Masa dari Rega sih? Tapi kayaknya nggak mungkin, dia kalau mau ngasih sesuatu pasti secara langsung nggak kayak gini." Aku kembali menoleh ke sekitar sebelum melangkah masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang keluarga.

Aku membaca sebuah kertas yang terselip di dalam buket.

Hei! Apa kabar?

Sengaja aja ngirim ini ke rumah lo, biar lo kaget, hehe. Inget-inget aja kalau gue terus berusaha buat ngedeketin dan ngedapetin lo.

M ;)

Aku berdecak kesal.

"Ini pasti ulah kak Malvin. Kalau Rega tau gimana," kataku dengan lirih. Aku menghembuskan nafasku kesal. Aku membuka kotak berukuran sedang yang dililit pita. Aku terkejut saat melihat beberapa foto candidku. Aku menemukan sebuah kertas di bawah beberapa fotoku tersebut.

Lo nggak tau kan kalau selama ini gue diem-diem ngikutin lo dan ngefoto lo?

Gue bener-bener tertarik sama lo dan berusaha ngedeketin lo sebelum gue tau kalau lo pacaran sama anak pungut itu. Gue kayaknya bakalan ngambil lo dari anak pungut itu, liat aja nanti.

Jantungku berdetak cepat, tak habis pikir dengan jalan pikiran kak Malvin.

"Kenapa aku nggak sadar sih selama ini kalau ada yang ngikutin aku sama ngefoto aku?" Aku masih diam menatap foto-fotoku dalam kotak tersebut.

Ponselku berdering, satu panggilan masuk dari nomor yang tak kusimpan di ponselku, namun, nomor itu sangat kukenal karena beberapa kali pernah menghubungiku, nomor kak Malvin.

Aku matikan panggilan itu, aku tau dia menelfonku hanya untuk bertanya tentang kotak dan buket yang telah dikirimnya.

Jariku beralih mengetik pesan kepada kak Malvin.

085230XXXXXX

Jangan gangguin aku lagi.

Stop ngirim apapun ke rumah aku.

Gue cuma berusaha buat ngedeketin lo dan ngambil hati lo.

"Ngeselin," kataku dengan kesal.

***

Sore ini aku berada di sebuah kafe bersama Tiara, Sila, Rega, dan Leo hanya untuk sekedar berkumpul.

"Udah ah capek," kata Tiara setelah beberapa kali memainkan uno.

"Iya deh, udahan aja." Sila menaruh beberapa kartu yang dipegangnya di atas meja.

"Kalian kalah terus sih, jadinya pengen udahan," kata Leo sambil merapikan kartu uno yang berserakan di atas meja.