Aku berjalan keluar ruang guru setelah menemui bu Anggun dan akan menuju kantin untuk menghampiri Tiara, Sila, Rega, dan Leo yang sudah lebih dulu ke kantin. Langkahku terhenti di koridor ruang ekskul yang sangat sepi saat kak Malvin tiba-tiba berhenti di depanku. Aku melangkahkan kakiku kembali mencoba untuk mengabaikannya, namun, baru satu langkah saja tanganku sudah dicekal dengan kuat.

"Hei, mau kemana?"

"Lepasin." Aku menarik tanganku dari genggamannya.

"Enggak." Cekalan kak Malvin semakin kuat.

"Kakak mau apa?"

"Mau ngedeketin lo." kak Malvin tersenyum menyeringai.

"Berhenti ngedeketin aku. Stop kirim apapun lagi ke rumah aku."

"Suka-suka gue Serena," kata kak Malvin.

Aku menghembuskan nafasku kasar. "Bisa nggak kak lepasin tangan aku?"

"Enggak. Ikut gue." kak Malvin mengeratkan genggamannya dan menarik aku hingga menuju lorong sempit di bawah tangga menuju laboratorium.

"Kak mau ngapain?" Aku mencoba melepaskan tanganku dari genggamannya.

Kak Malvin diam dan mendorongku pelan hingga punggungku bersentuhan dengan dinding. Aku tak bisa kemana-mana karena kedua tangan kak Malvin yang mengunciku.

"Jangan aneh-aneh," kataku.

Kak Malvin tetap diam dan semakin mendekatkan wajahnya ke arahku. Hingga jarak...

3cm

2cm

1cm

Aku masih diam terpaku, aku sangat takut, jantungku berdetak sangat cepat, wajahku memanas dan yang bisa kulakukan hanyalah menutup mataku. Kurasakan hembusan nafas kak Malvin semakin dekat dengan wajahku.

Prakk

Aku membuka mataku dengan cepat.

"Sialan." kak Malvin melihat seekor kucing yang baru saja menjatuhkan pot dari tangga.

Aku berlari sekuat tenaga meninggalkan kak Malvin, mataku memanas hingga tak kusadari air mataku jatuh. Jantungku berdetak sangat cepat, aku terus berlari tak menghiraukan tatapan aneh dari siswa-siswi yang ada di koridor hingga sampai di depan kantin aku berhenti dan menghembuskan nafasku pelan, aku mengontrol nafasku yang memburu. Aku mengusap pipiku yang telah basah oleh air mata. Aku harus terlihat baik-baik saja, aku tidak ingin Rega marah dan akan khawatir kepadaku.

Aku berjalan dengan mencoba tenang.

"Kok lama?" tanya Rega saat aku baru saja duduk di sebelahnya.

"Iya, ke toilet dulu barusan." Aku tersenyum tipis.

"Yaudah buruan makan, udah aku pesenin siomay."

Aku mengangguk pelan dan melahap siomayku dalam diam.