Hari ini ektrakurikuler terakhir di semester dua ini, karena minggu depan sudah mulai ujian kenaikan kelas.

"Liat deh, dari tadi kak Malvin ngeliatin lo, tapi kayak ada yang aneh deh ya," kata Tea dengan sedikit berbisik.

Aku mengikuti arah pandang Tea dan pandanganku bertemu dengan kak Malvin. Kak Malvin langsung membuang wajahnya dariku. Semenjak aku bercerita ke Rega tentang kak Malvin, ada yang aneh dan berbeda dengan kak Malvin, akhir-akhir ini saat beberapa kali aku bertemu kak Malvin, dia mengabaikanku, berbeda dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya yang dimana dia selalu mengusikku. Akhir-akhir ini juga tidak ada lagi kado yang datang ke rumahku lagi.

Aku sangat yakin Rega telah melakukan sesuatu ke kak Malvin hingga kak Malvin bersikap seperti sekarang kepadaku. Tapi aku masih takut untuk membahas lebih lanjut kepada Rega.

"Dia nggak pernah lagi deh nyamperin lo, aneh, apa dia udah nggak suka sama lo? Tapi kok dia masih tetep ngeliatin lo ya?"

Aku menaikkan kedua bahuku. "Udah biarin Te, aku juga ngerasa keganggu kalau dia nyamperin aku terus. Bukannya kamu juga nggak suka ya sama dia," kataku sambil membereskan alat tulisku.

"Iya juga sih, gue juga tenang kalau dia nggak nyamperin lo lagi, gue nggak ada yang marahin lagi, nggak ada yang ngebentak gue lagi." Tea tertawa pelan.

"Ada hikmahnya juga kan." Aku ikut tertawa pelan.

"Bener."

"Yuk pulang."

Aku melangkah keluar ruangan bersama Tea.

"Pulang sama Rega?"

Aku mengangguk. "Iya, kenapa?"

"Gue selalu pengen deh jadi lo, lo tuh cantik, baik, nggak sombong, pinter di semua matpel, gambar apa aja juga bisa, punya temen yang baik-baik kayak Tiara, Sila sama Leo dan punya pacar kayak Rega yang baik, ganteng, kapten sepak bola lagi. Lo sempurna Ren, gue selalu ngerasa insecure kalau deket lo Ren."

"Nggak ada yang sempurna di dunia ini, setiap orang emang beda-beda, nggak ada yang sama, tergantung gimana setiap orangnya dalam mensyukuri hidupnya, insecure emang boleh-boleh aja tapi yang paling penting biar nggak ngerasa insecure adalah cukup nerima dan bersyukur atas apa yang kita miliki sekarang."

"Iya sih ya." Tea menggaruk kepalanya yang sepertinya tidak gatal.

Aku mengangguk pelan. "Jangan insecure lagi Te, nggak baik." Aku tersenyum.

Tea tersenyum. "Pasti."

"Sayang, aku dijadiin obat nyamuk sama mereka nih," teriak Rega saat aku sampai di dekat lapangan.

Aku tersenyum melihat wajah gemas Rega yang sedang duduk di kursi pinggir lapangan bersama Sila dan Farhan.

"Lucu banget sih pacar lo." Tea tertawa pelan.

"Kenapa? Kamu mau?" tanyaku.

"Mau, nggak bakalan gue tolak, kapan lagi dapat cowok ganteng kayak Rega kan," kata Tea dengan antusias. "Eh tapi pasti dia nggak sih mau sama gue," lanjut Tea.