Aku bersandar pada sofa ruang keluarga, hari ini aku di rumah sendiri, mama sedang keluar untuk menghadiri acara. Telepon rumah berdering, aku bangkit untuk mengangkatnya.

"Halo!"

Tidak ada suara.

"Halo, ada yang bisa dibantu?"

Tetap tidak ada suara, aku matikan sambungan teleponnya dan kembali duduk di sofa untuk membaca majalah.

Ponselku berdering, satu panggilan masuk dari nomor yang tak kukenal. Aku ragu untuk mengangkatnya hingga panggilan tersebut mati.

Telepon rumah kembali berdering, aku bangkit untuk mengangkatnya.

"Halo!"

Tidak ada suara.

"Maaf dengan siapa ya?"

Tetap tidak ada suara, aku kembali mematikan sambungan teleponnya, sepertinya orang iseng.

Tok tok.

Terdengar pintu rumah terketuk.

"Siapa ya malem-malem datang."

Aku melangkah untuk membukanya, seorang bapak-bapak yang asing di mataku berdiri di depan pintu dengan membawa sebuah kotak berukuran sedang.

"Iya pak? Maaf ada yang bisa dibantu?" tanyaku.

"Mbak Shiren ya?"

Aku mengangguk. "Iya."

"Saya sopir keluarganya mas Rega mbak, ada titipan dari mas Rega buat mbak." Bapak-bapak tersebut memberikan kotak yang dipegangnya kepadaku.

Aku menerima kotak tersebut dengan tersenyum. "Makasih ya pak."

"Iya mbak sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu."

Aku mengangguk dan tersenyum.

Bapak-bapak tersebut langsung melangkah pergi.

Aku menutup pintu rumahku dan langsung masuk ke dalam kamarku, senyumku tak berhenti mengembang.

Aku duduk di meja belajar, membuka lilitan pita yang melilit kotak dari Rega dan membukanya, tampak sebuah dress warna latte yang cantik. Aku berdiri di depan cermin dan mengepaskan dressnya di tubuhku.